***** Dzuzant's *****

"Tanpa Berkarya, Sungguh Kita Telah 'Mati'"

BERKAWAN BUKU

Posted by dzuzant pada Maret 6, 2010

Oleh Dedy Susanto

Seorang trainer ditanya, “Apa kunci kesuksesan anda?” dia menjawab, “Saya selalu belajar pada yang terbaik.” Dilihat dari materi dan popularitasnya trainer ini memang terbilang luar biasa. Bisnisnya berkembang pesat di mana-mana, popularitasnya terus naik, pengetahuannya luas, semangatnya tak pernah kendur, tak heran jika dia selalu tampil smart, perfect dan energik.

Kehausan untuk selalu belajar dan belajar telah mengantarkan dirinya pada kehidupan yang menakjubkan. Seluruh harta, tenaga, pikiran dan waktu ia pergunakan untuk belajar dan belajar. Ingin terampil bisnis, dia terbang ke luar negeri untuk belajar pada praktisi bisnis kaliber dunia. Jika ingin menjadi pembicara top, pakar kepribadian dan lain sebagainya dia harus berusaha belajar pada yang terbaik. Trainer telah membuktikan semua itu. Katanya, “Kalau kita belajar pada yang terbaik di dunia, minimal kita bisa jadi yang terbaik di Indonesia.”

Tentu tidak semua orang bisa melakukan seperti trainer itu. Ada yang ingin belajar pada yang terbaik, tapi situasi dan kondisi (sikon) tidak memungkinkan. Bagaimana mengakalinya? Caranya gampang, berkawanlah dengan buku. Buku itu mewakili kapasitas diri seorang penulis. Langkah-langkah seperti ini yang sering dilakukan sang trainer. Buku itu cerminan, pikiran, ide, bahkan “identitas” seorang penulis. Kita bisa belajar kepada orang-orang sukses di dunia melalui buku-buku dan karya-karyanya. Buku adalah “wakil” sang penulis. Membaca buku seperti halnya berkawan dengan penulisnya. Untuk itu carilah buku yang kualitasnya baik, agar hasilnya juga baik. Kata Eman Sulaiman, buku adalah perwujudan jati diri seseorang yang terangkum dalam bentuk tulisan. Lewat buku, seorang penulis menuangkan ide-ide terbaiknya. Lebih lanjut dia berkata, “Beda dengan bahasa lisan, bahasa tulis biasanya selalu mengambil bentuk yang terbaik”.

Ahmad bin Ismail mengilustrasikan bahwa “Buku adalah teman bicara yang tidak mendahuluimu. Teman bicara yang tidak memanggilmu ketika kamu bekerja. Teman bicara yang tidak memaksamu berdandan ketika menghadapinya. Teman kencan yang tidak menyanjungmu. Kawan yang tidak membosankan. Penasehat yang tidak mencari-cari kesalahan”.

Betapa bijaksananya diri kita, kalau kita mau melakukan hal demikian. Siapa pun diri kita, seorang pejabat, pendidik, pengusaha, penjaga toko kaki lima maupun tukang becak no problem. Karena membaca itu bukan ditentukan oleh siapa pembacanya. Tapi, apa yang diperoleh dari buku yang ia baca dan bagaimana ia merealisasikan dalam kehidupan nyata, reality life.

Kalau kita memelihara budaya baca dan mempertahankan semangat belajar, penulis yakin Negara kita akan kembali bangkit dari keterpurukannya serta mampu bersaing dengan Negara-negara maju. Kondisi rakyat pun sedikit demi sedikit akan pulih. Dengan ilmu manusia akan sejahtera, dengan ilmu manusia tahu apa yang harus ia lakukan dan tidak akan mudah diombang-ambingkan orang lain. Ilmu itu ibarat tangga. Untuk menggapai kesuksesan dibutuhkan tangga (ilmu). Tidak akan mendapatkan sesuatu tanpa mencari. Dalam peribahasa Sunda dikatakan: moal ngarih mun teu ngarah. Oleh karenanya ilmu itu penting untuk kita pelajari, baik lewat buku maupun langsung kepada orangnya. Jangan pernah berhenti belajar dan berusaha, kalau kita ingin mendapatkan apa yang kita inginkan. Sesungguhnya anak kecil tidak akan pernah bisa berjalan sampai ia terjatuh dan terjatuh.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: