***** Dzuzant's *****

"Tanpa Berkarya, Sungguh Kita Telah 'Mati'"

Archive for Mei 5th, 2010

Dakwah Orang “Bodoh”

Posted by dzuzant pada Mei 5, 2010

oleh Dedy Susanto

Ada sebuah pertanyaan yang menggegerkan penduduk langit dan bumi. Pertanyaan tersebut begini:
“Mana yang lebih utama shalat orang bodoh tapi khusyuk atau shalat orang alim tapi tidak khusuk?”
“Orang alim yang shalatnya tidak khusyuk itu bukan orang alim.”
“Tapi ia menguasai berbagai disiplin ilmu agama, mulai Al-Qur’an, fiqih, tafsir, akidah dan lain-lain. Bahkan ia menjadi ustadz dan mengajar di berbagai pesantren dan perguruan tinggi Islam.”
“Tetap saja ia bukan orang alim seperti yang dikehendaki Allah. Ia tak lebih dari pengumpul ilmu, yang dengan ilmunya ia tak bisa menolong “hatinya” untuk sujud di hadapan Allah dan konsisten mengingat-Nya.”
“Kalau begitu, tidak ada gunanya ia belajar.”
“Ya tetap ada walaupun saeutik.”
Saeutik itu apa, tadz.”
Saeutik tu bahasa Sunda tau. Artinya sedikit.”
“Ooo. Tapi bagaimana dengan seorang bodoh yang khusyuk?”
“Ia sebenarnya bukan orang bodoh, meskipun secara folmal mungkin agak janggal kalau disebut orang alim.”
“Tapi faktanya ia kan tidak bisa membaca kitab-kitab kuning (gundul) dan menjawab persoalan-persoalan agama.”
“Tidak apa, yang penting hatinya sudah menjadi singgasana bagi nur yang tak terperikan terangnya. Kalau orang ini mau mengaji ilmu dzahir seminggu saja akan sama perolehan ilmunya dengan aku belajar delapan puluh tahun.”
“Tapi orang ini kan tidak bisa bertabligh?”
“Sebenarnya bisa, Cuma tidak di mimbar. Tabligh dia di tengah pergaulan dengan contoh-contoh yang konkrit.”
“Benar juga ya, ustadz memang hebat?”
“Bukan aku yang hebat, tapi tu si bodoh dari gua hantu, ha…ha…ha.”

(Diambil dari karya, D. Zawawi Imron)

Posted in hikmah | Dengan kaitkata: , , | 1 Comment »

UKHUWAH ISLAMIYAH

Posted by dzuzant pada Mei 5, 2010

Oleh Dedy Susanto

Assalamu’alaikum Wr. Wb.

Mari kita ungkapkan puji dan syukur kepada Allah SWT. Atas segala limpahan rahmat, hidayah serta nikmat-nikmatnya yang tiada henti-hentinya mengalir pada diri kita. Solawat serta salam semoga tetap tercurahkan kepada junjungan kita sang proklamator Islam, sang pendobrak pintu kejahilan, yakni nabi besar Muhammad, Rasulullah Saw. Serta keluarganya, sahabatnya maupun umatnya.

Sepanjang hidupnya, beliau mengajarkan, menuntun umat manusia ke jalan yang benar. Tiada hari tiada waktu selain beliau pergunakan untuk kepentingan umatnya. Nilai-nilai kehidupan yang beliau ajarkan kepada kita yang kemudian di abadikan dalam Al-Qur’an dan Hadist, mesti kita jaga, merawat dan merealisasikan dalam kehidupan kita sehari-hari. Sehingga ajaran Islam tetap terpelihara sampai hari akhir nanti. Peradaban Islam akan bangkit dan jaya manakala umat Islam mengamalkan ajaran-ajaran Islam sepenuh hati.

Salah satu ajaran Islam yang harus kita amalkan adalah Ukhuwah Islamiyah. Secara bahasa ukhuwah adalah persaudaraan atau bersaudara. Ukhuwah pada mulanya berarti “Persamaan dan keserasian dalam banyak hal”. Dalam bahasa Al-Qur’an, siapapun yang memiliki persamaan sifat-sifat disebut bersaudara. Dua orang yang berbeda disebut bersaudara bila berasal dari satu keturunan. Orang orang yang beriman adalah bersaudara karena memiliki sifat yang sama, yaitu Iman dan Islam. Sebagai sesama manusia kita adalah bersaudara, yaitu saudara satu keturunan dari nabi Adam as dan istrinya, Siti Hawa. Maka tidak ada alasan bagi kita untuk saling membencinya. Sebaliknya, kita harus rukun dan harmonis dalam menjalani kehidupan ini. Saling tolong menolong antara yang satu dengan yang lainnya. Saling asah, saling asih dan saling asuh.

Di dalam kitab Al-Qur’an surat Al-Hujurat ayat 10 disebutkan:

Sesungguhnya orang-orang beriman adalah bersaudara, karena itu damaikanlah [ishlah] antara kedua saudaramu, dan bertakwalah kepada Allah supaya kamu mendapat rahmat.” Baca entri selengkapnya »

Posted in kajian keislaman | Dengan kaitkata: , | Leave a Comment »

MENULIS SERIBU IDE

Posted by dzuzant pada Mei 5, 2010

Oleh Dedy Susanto
[2010]
Kalau di dunia ini tidak ada penulis, maka kehidupan generasi selanjutnya akan kacau balau. Peradaban umat manusia akan hancur. Nilai-nilai kehidupan yang diajarkan umat terdahulu tidak mampu bertahan dengan sempurna sampai sekarang manakala tidak diabadikan dalam tulisan. Suatu ilmu yang tidak diikat (ditulis) dengan tulisan akan musnah ditelan masa. Budaya lisan tidak menjamin utuhnya sebuah ajaran-ajaran atau pemikiran-pemikiran generasi terdahulu tanpa dibarengi dengan budaya tulis. Pemikir-pemikir besar terdahulu seperti Ghazali, Ibnu Rusyd, Aristoteles, Plato dan Mahatma Gandi, pemikiran-pemikirannya tetap hidup sampai sekarang. Karena diabadikan dalam bentuk tulisan. Sehingga bisa dibaca, diteliti, dan dianalisis oleh generasi sekarang. Dan melahirkan ilmu-ilmu baru.
Pada dasarnya setiap orang bisa melakukan apa saja yang dia inginkan termasuk menjadi penulis. Selama ini seringkali penulis pemula terjebak dengan teori-teori menulis  yang baik yang ditawarkan para penulis. Hasilnya, mereka kebingungan harus  memulai menulis dari mana. Karena kebingungan, semua ide yang muncul dipikirannya hilang seketika. Ide itu mudah datang dan mudah juga perginya. Solusinya segera tuangkan ke atas kertas (tulis). Baca entri selengkapnya »

Posted in Kajian Umum | Dengan kaitkata: , , | Leave a Comment »

Spirit Imam Nawawi

Posted by dzuzant pada Mei 5, 2010

Ol3h D3dy Susanto

Imam Nawawi adalah pengarang kitab ‘Riyad as-Shalihin’ meninggal di usia 40 dan belum sempat menikah. Karena sibuk dengan ilmu pengetahuan. Semangat jiwa dan raganya dikerahkan untuk beribadah dan menorehkan tintanya diatas lembaran-lembaran kertas. Kata demi kata, kalimat per kalimat ia racik menjadi sebuah karya. Begitulah beliau menghabiskan waktunya sampai akhir hayatnya. Sehingga dalam waktu singkat beliau telah menuntaskan 500 buah buku.
Di malam yang gelap gulita, hanya ditemani lampu kecil, Imam Nawawi khusyuk menulis hingga beliau terjatuh berkali-kali karena rasa kantuk yang tak tertahan. Beliau hampir tidak memiliki waktu itu.
“Sungguh aku tidak makan dan tidur kecuali terjatuh,” ujarnya.
Sehingga ibunya berkata kepadanya, “Anakku, aku telah menyiapkan makanan untukmu.”
“Ibu, saya sedang sibuk dengan ilmu,”
Ibunya, yang tanpa disadari Nawawi, kemudian menyuapinya. Ia baru menyelesaikan tulisannya setelah adzan subuh.
“Ibu, mana makanan yang tadi engkau sediakan?” tanyanya.
“Aku telah menyuapimu, anakku,” jawab ibunya dengan penuh kasih sayang.
“Sungguh saking sibuknya aku lupa,” ujar Nawawi.

Posted in hikmah | Leave a Comment »