***** Dzuzant's *****

"Tanpa Berkarya, Sungguh Kita Telah 'Mati'"

MENULIS SERIBU IDE

Posted by dzuzant pada Mei 5, 2010

Oleh Dedy Susanto
[2010]
Kalau di dunia ini tidak ada penulis, maka kehidupan generasi selanjutnya akan kacau balau. Peradaban umat manusia akan hancur. Nilai-nilai kehidupan yang diajarkan umat terdahulu tidak mampu bertahan dengan sempurna sampai sekarang manakala tidak diabadikan dalam tulisan. Suatu ilmu yang tidak diikat (ditulis) dengan tulisan akan musnah ditelan masa. Budaya lisan tidak menjamin utuhnya sebuah ajaran-ajaran atau pemikiran-pemikiran generasi terdahulu tanpa dibarengi dengan budaya tulis. Pemikir-pemikir besar terdahulu seperti Ghazali, Ibnu Rusyd, Aristoteles, Plato dan Mahatma Gandi, pemikiran-pemikirannya tetap hidup sampai sekarang. Karena diabadikan dalam bentuk tulisan. Sehingga bisa dibaca, diteliti, dan dianalisis oleh generasi sekarang. Dan melahirkan ilmu-ilmu baru.
Pada dasarnya setiap orang bisa melakukan apa saja yang dia inginkan termasuk menjadi penulis. Selama ini seringkali penulis pemula terjebak dengan teori-teori menulis  yang baik yang ditawarkan para penulis. Hasilnya, mereka kebingungan harus  memulai menulis dari mana. Karena kebingungan, semua ide yang muncul dipikirannya hilang seketika. Ide itu mudah datang dan mudah juga perginya. Solusinya segera tuangkan ke atas kertas (tulis).
Kesulitan lain yang dihadapi penulis pemula ketika menulis ialah kehabisan ide. Sebenarnya ide itu banyak kalau kita sensitif dan lebih cerdas. Ide bisa didapat dari; membaca (koran, buku, majalah dll), discusi, ngobrol dengan teman-teman, shooping atau jalan-jalan (bersama teman atau sendiri), menonton TV, bioskop, sepak bola. Dan lain sebagainya.
Tidak ada paksaan dalam menulis. Menulis itu bebas, selama tidak merugikan orang lain. Menulis itu mudah kalau sering latihan menulis setiap hari. Sejauh ini belum ada rumusan (formula) yang baku tentang kiat, teknik, atau langkah-langkah praktis agar seseorang dapat menulis (ASM. Romli, Jurnalistik Terapan:79). Ada ungkapan di dunia jurnalistik, “Menulis itu bagaikan berenang. Betapapun seringnya seseorang mendengarkan ceramah atau membaca buku tentang renang, ia tetap tidak akan bisa berenang selama ia tidak menceburkan diri ke dalam kolam renang”. Artniya, seseorang tidak akan bisa menulis tanpa mempraktekkannya secara langsung dan terus menerus berlatih menulis.
Salah satu factor, yang sering diabaikan, dalam menulis adalah kondisi psikologis penulis. Suasana hati atau pikiran yang tenang akan mempengaruhi proses penulisan. Sehingga hasilnya, bagus tidaknya tulisan, pun ditentukan dalam proses tersebut.
Ketika seseorang mendapatkan sesuatu yang luar biasa, menarik, dia ingin cepat-cepat memberitahukan kepada keluarga dan sahabatnya.(bagi yang bukan penulis). Sedangkan bagi penulis langsung menorehkan tintanya di atas kertas. Menuturkan kata demi kata hingga tuntas. Kemudian diberitahukan kepada orang lain melalui media; internet, koran, majalah, buletin dan sebagainya sehingga  dapat dibaca oleh jutaan manusia. Manfaatnya lebih besar dari yang pertama.
Penulis punya teman yang memiliki ‘seribu ide’ di kepalanya (penulis yakin semua orang juga megalami hal serupa), tetapi tidak pernah menuangkannya dalam tulisan. Bahkan, dia berkata dengan sedikit bangga, “Aku sih punya seribu ide tentang banyak hal, tinggal menuliskannya dalam tulisan”. Penulis berkata dalam hati, sampai kapan kamu akan menuangkan idenya itu. Sampai sekarang tulisan itu tidak kunjung jadi. Kerena dia tidak pernah menuliskannya dalam tulisan. itu hanya contoh kecil. Artinya, jangan biarkan ide-ide itu berkeliaran di angan kita. Lebih baik tuangkan dan diracik dalam sebuah karya lalu kirim ke media. Lumayan kalau dimuat, kita dapat honor.
Pada dasarnya ide itu muncul di mana saja dan kapan saja. Bahkan, di saat kita akan tidur. Seperti dituturkan dalam cerpen Taufiq al-Hakim yang berjudul “Kelahiran Ide”. Di saat dia akan tidur, tiba-tiba dia merasakan hal aneh di pikirannya, ternyata “ide”. “Apa yang kau inginkan?”.
“Keluar” jawab ide.
“Sekarang? Tengah malam begini? Saat orang-orang tertidur pulas dan kantuk menyergap kedua mataku ini!”
“Iya, sekarang. Jika tidak sekarang, aku tidak akan keluar untuk selamanya.” Jawab ide.
Itu sebabnya para penulis selalu menganjurkan kita untuk selalu membawa buku catatan yang berukuran kecil atau selembar kertas serta alat tulis kemana pun kita pergi sebagai persiapan atas kelahiran ide. Ada ungkapan lama megatakan, Sedia payung sebelum hujan. Ide itu tidak bisa ditunda, tidak bisa ditawar apalagi diajak kompromi. Kalau tidak segera ditulis dalam bentuk tulisan, maka ia akan lenyap. Kalaupun berusaha untuk mengingatnya tidaklah sebaik dan sesempurna yang muncul pertama kali.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: