***** Dzuzant's *****

"Tanpa Berkarya, Sungguh Kita Telah 'Mati'"

MENGGUGAT KEKERASAN DI DUNIA MAYA

Posted by dzuzant pada Mei 15, 2010

Oleh Dedy Susanto

Istilah pacaran dan seks bukan hal yang tabu (asing) lagi di tanah air. Kedua istilah tersebut sangat populer dalam kehidupan kaum remaja saat ini. Bahkan, kehidupan remaja selalu diidentik dengan pacaran atau pergaulan bebas. Dilihat dari aspek psikologis, masa remaja merupakan masa-masa transisi yang sangat rawan dan labil. Sehingga jika tidak berhati-hati akan mudah terjerumus pada hal-hal yang dilarang dan merugikan dirinya dan orang lain. Di kota metropolitan, orang yang tidak berpacaran dianggap sebagai orang yang tidak mengikuti trend, alias tidak gaul atau tidak mengikuti zaman. Hal ini tak lepas dari peran teknologi audiovisual, salah satunya adalah televisi (TV) yang semakin mem-booming dewasa ini dengan tayangan-tayangannya yang sangat vulgar (tidak edukatif).

Televisi sebagai media audiovisual yang memiliki kelebihan dibanding media-media informasi lainnya. Secara umum orang mampu mengingat 50%-85% dari apa yang mereka lihat dan dengar di TV. Namun sayang, program yang ditayangkan hampir semuanya jauh dari nilai-nilai ajaran Islam. Program yang tidak edukatif seperti percintaan remaja, free sex, pemerkosaan, pergaulan bebas, hedonisme, atau tindak kriminalitas lainnya seperti mutilasi, pembunuhan, dan lain sebagainya semakin menjamur di TV kita. Dan semua itu memiliki pengaruh yang sangat besar terhadap kehidupan kaum remaja maupun orang dewasa. Maraknya tawuran antar pelajar, pacaran, pelecehan seksual, pakaian ketat dan minim adalah fakta yang tak terbantahkan lagi dewasa ini. (Abu Said Al-Khudri:2005)

Dalam sebuah penelitian di New York terhadap 700 orang selama 17 tahun membuktikan bahwa menonton TV lebih dari satu jam perhatiannya cenderung menjadi anak yang melakukan tindakan-tindakan kriminalitas pada usia dewasanya. Lebih lanjut, penelitian ini menunjukkan bahwa kekerasan termasuk perkelahian dan perampokan bertambah jika anak tersebut menonton TV lebih dari tiga jam perhatiannya. Hal ini diperkuat dalam penelitian Leonard Eron dan Rowell Huesman bahwa tontonan kekerasan yang dinikmati pada usia 8 tahun akan mendorong  tindak kriminalitas pada usia 30 tahun.

Kalau kita perhatikan, tayangan TV sekarang tidak hanya merusak moral bangsa tetapi juga menghancurkan akidah para remaja bahkan umat Islam sendiri pada umumnya. Seperti halnya tayangan program KISMIS (Kisah Misteri), PLESETAN, Hantu Jamu Gendong, dan program-program lain sejenisnya secara otomatis akan merusak keimanan seseorang. Karena program KISMIS dan sejenisnya telah membangun sebuah pemahaman bahwa ada arwah penasaran/gentayangan, bahwa yang sudah meninggal akan hidup kembali untuk mengganggu manusia.

Di dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah tidak ada penjelasan tentang hal tersebut, yang ada hanyalah mengenai roh/nyawa itu adalah urusan Allah SWT. Sebagaimana telah ditegaskan dalam firman-Nya sebagai berikut:

“(Dan) mereka bertanya kepadamu tentang roh (nyawa). Katakanlah: ‘Roh itu termasuk urusan Rabb-ku’, Dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan hanya sedikit”. (QS. Al-Isra’: 85).

Program-program tersebut  sudah jelas bertentangan dengan nilai-nilai Islam. Sebagai media yang paling banyak digemari anak-anak, remaja, dan orang dewasa, sudah seharusnya TV dijadikan sebagai washilah atau media untuk mentransformasikan nilai-nilai luhur dan motivasi-motivasi yang dapat membangkitkan semangat belajar. Sebab dewasa ini masyarakat Indonesia terkena serangan penyakit ‘malas’. Malas untuk belajar. Malas untuk berkarya. Dan malas untuk melakukan sesuatu yang menguntungkan dirinya. Apalagi ditambah dengan tayangan-tayangan TV yang tidak edukatif, akan jadi apa bangsa ini?!

Dengan demikian, eksistensi TV ibarat pedang yang bermatadua, dapat digunakan untuk kebaikan dan keburukan. TV sebagai sarana kebaikan, karena bisa digunakan untuk menyampaikan ajaran-ajaran dan nilai-nilai yang luhur. Sebab TV itu merupakan sarana paling efektif untuk menyalurkan pesan-pesan kepada masyarakat luas. Dan dalam waktu yang bersamaan TV dapat ditonton oleh manusia diseluruh dunia. Akan tetapi, sangat disayangkan, dewasa ini program tayangan TV –sebagaimana telah dijelaskan di atas- jauh dari nilai-nilai Islami.

Tayangan-tayangan yang hanya memuja ‘erotisme’ atau lekukan tubuh  dan mengumbar hawa nafsu sudah menjadi trend sekarang ini, justru akan terasa hambar kalau tidak ada tayangan yang seperti itu. Kebiasaan-kebiasaan seperti inilah yang mesti kita kupas sedikit demi sedikit. Namun, terus menerus akan membukit.

Dalam salah satu keterangan disebutkan salah satu siasat yang digunakan bangsa Yahudi untuk menghancurkan umat manusia terutama umat Islam adalah dengan mengalihkan perhatian mereka kepada hal-hal yang berbau ‘hiburan’ seperti bioskop, TV, dan panggung sandiwara. Sehingga umat manusia terlena oleh permainan dan hiburan yang tidak bermanfaat. Kalau seseorang sudah terbuai oleh hiburan maka akan lupa untuk mengerjakan hal-hal yang baik. Kalau demikian, kitalah yang rugi. Sedangkan orang Yahudi dan orang-orang yang menginginkan kehancuran Islam tertawa terbahak-bahak karena rencana mereka berhasil. Sebagai umat Islam hendaknya mereka lebih berhati-hati terhadap siasat tersebut. Mereka  sudah mengetahui dan dapat membedakan mana yang baik dan buruk, mana yang harus ditolak serta mana yang layak diterima dari sebuah tayangan TV.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: