***** Dzuzant's *****

"Tanpa Berkarya, Sungguh Kita Telah 'Mati'"

Misteri Kematian

Posted by dzuzant pada Mei 15, 2010

Oleh Dedy Susanto

Setiap yang bermula pasti akan berakhir. Dunia yang kita pijak bermula dan pada saatnya nanti akan hancur. Dalam ajaran Islam, kehancuran dunia dan isinya beserta jutaan planet yang lain dikenal sebagai hari kiamat. Dan umat Islam wajib mempercayainya. Karena ini (kiamat) termasuk salah satu dari rukun iman.

Manusia adalah makhluk (diciptakan). Karena ‘diciptakan’ maka ia mengalami ketiadaan sebelum adanya. Ia ada karena diadakan Sang Pengada, yaitu Khalik (Pencipta). Berarti manusia bermula dan berakhir. Manusia akan mengalami kematian setelah kehidupannya dan mengalami kehidupan setelah kematiannya. Demikian juga makhluk-makhluk yang lainnya, sebagaimana manusia, akan mencapai titik akhir dari hidupnya. Hanya saja mereka tidak akan mengalami kehidupan setelah kematiannya.

Setiap yang bernyawa akan mengalami kematian. Kematian itu sendiri merupakan sebuah misteri yang tidak akan pernah kita ketahui, kapan ia akan muncul merenggut nyawa kita. Meninggalkan jasad kita untuk belatung-belatung yang sudah menunggu lama di alam kubur. Merobek dan menghancurkan kulit kita. Dan kita tidak kuasa untuk berbuat apa-apa.

Coba kita bayangkan kalau seandainya umur manusia itu diketahui, maka manusia dengan leluasa melakukan maksiat lalu setelah dekat kematiannya ia bertobat.

Kemegahan harta yang melimpah tiada berarti setelah ketiadaan kita. Emas, perak, intan, mutiara dan permata tidak dapat kita nikmati di alam kubur. Bahkan mereka tak mampu mengantarkan kita pada liang lahat. Sungguh rugi bagi orang yang memuja harta. Sedangkan harta tak mampu menolong kita. Sungguh sia-sia orang yang sibuk memikirkan harta. Sedangkan harta itu tidak memberikan manfaat yang berarti bagi kita di akhirat. Kegagahan dan kekebalan tubuh kita tidaklah berarti ketika menghadapi kedahsyatan malaikat penjaga kubur. Mereka lebih kuat dari kita. Mereka lebih kebal ketimbang kekebalan tubuh kita. Badan kita yang berotot, perut kita yang buncit, hanya mengundang nafsu sekawanan belatung.

Ingatlah segala yang kita perbuat akan dimintai pertanggungjawaban. Mata kita yang elok, pendengaran kita yang tajam serta hati nurani kita yang halus semuanya akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah. “… Karena pendengaran, penglihatan, dan hati nurani kesemuanya itu akan diminta pertanggungjawaban.” (Q.S. Bani Israail: 36)

Abu Bakar Ash-Shiddik menyatakan, “Barang siapa masuk kubur tanpa membawa bekal, maka seakan-akan dia mengarungi lautan tanpa perahu”. Kita adalah calon-calon penghuni kubur yang sedang menunggu giliran untuk memasukinya. Haruskah kita ‘pergi’ tanpa membawa bekal yang cukup. Bukankah itu akan menyengsarakan diri sendiri.

Dalam kubur tidak ada yang menolong kita selain amal jariyah, ilmu yang berguna bagi diri sendiri dan orang lain dan anak soleh yang selalu setia mendo’akan kita (orang tuanya). Inilah bekal yang tidak akan pernah habis kita makan. Selamat menunggu giliran kita !!!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: