***** Dzuzant's *****

"Tanpa Berkarya, Sungguh Kita Telah 'Mati'"

STRATEGI DAKWAH NABI

Posted by dzuzant pada Mei 15, 2010

oleh Dedy Susanto

1. Masyarakat Arab Paganisme.

Sebelum Islam lahir ditengah-tengah masyarakat Arab Jahiliyah atau masa pra-Islam, mereka adalah penyembah berhala yang taat. Kemudian mereka dikenal sebagai masyarakat Arab Paganisme. Mereka menyebut berhala-berhala yang disembahnya seperti yang disebut dalam kata Yunani sebagai hot heos yang berarti “Tuhan”.

Sebenarnya nama Allah itu sendiri bukanlah nama yang asing bagi orang-orang Jahiliyah. Sehingga, pada perkembangan selanjutnya ketika Nabi Muhammad diutus oleh Allah untuk menyampaikan ajaran-ajaran Islam, orang-orang pagan banyak yang menghargai paling tidak sebuah gagasan kabur, dan mungkin pula  kepercayaan kabur terhadap Allah sebagai Tuhan tertinggi di atas tingkatan berhala-berhala yang mereka sembah.

Kalau misalnya ditanyakan kepada mereka perihal, siapa yang menciptakan langit dan bumi serta yang menurunkan hujan, mereka pasti mengatakan bahwa Allah-lah yang melakukan semuanya. Hal ini bisa kita lacak di dalam kitab suci Al-Qur’an surat al-Ankabut:

“Jika kamu tanyakan kepada mereka (yaitu orang-orang Arab pagan) ‘siapa yang menciptakan langit dan bumi, dan menundukkan matahari dan bulan?’ mereka tentu saja akan menjawab, ‘Allah’.” (QS. Al-Ankabut: 61)

Dan ayat berikutnya menyatakan

“Jika kamu tanyakan kepada mereka ’siapa yang menurunkan hujan dari langit dengan menghidupkan bumi dengannya setelah bumi itu mati?’ mereka tentu saja akan menjawab, ‘Allah’.” (QS. Al-Ankabut: 63)

Jelas bahwa Allah telah dikenal sejak masa pra-Islam. Hanya saja orang-orang pagan gagal menarik kesimpulan  yang masuk akal dari pengakuan terhadap Allah sebagai Pencipta langit dan bumi serta seisinya. Demikian Toshihiko menuturkan.

2. Nabi Muhammad di Panggung Sejarah

Waraqah bin Naufal bin Asad bin ‘Abd al-‘Uzza,[1] sepupu Khadijah, istri Nabi Muhammad saw, merupakan orang kedua, setelah Khadijah, yang mengakui kenabian Muhammad. Hal ini seperti yang digambarkan dalam sebuah hadis Bukhari pada bab tentang “Bagaimana Wahyu datang kepada Nabi”. Kemudian hadis tersebut dikutip oleh Toshihiko Izutsu[2] dalam bukunya, Relasi Tuhan dan Manusia. Dia menulis kurang lebih seperti ini:

Ketika wahyu pertama “Bacalah dengan nama Tuhanmu yang telah menciptakan” turun kepada Nabi saw. dalam bentuk yang sangat aneh dan mengagumkan, Nabi yang belum pernah mengalami hal seperti itu sebelumnya wajar saja mengalami goncangan. Dia kehilangan kepercayaan diri; ia gelisah, gugup dan menderita. Singkatnya, dia sendiri tidak tahu bagaimana harus memahami pengalaman yang aneh ini.

Istrinya Khadijah  tidak hanya berusaha meyakinkannya, tetapi lebih dari itu ia berusaha menemui orang yang berwenang. Orang yang berwenang itu adalah sepupunya, Waraqah bin Naufal bin Asad yang terkenal. Ini teks bagian utama kisah tersebut sebagaimana disampaikan oleh Bukhari kepada kita.

“Kemudian dia (Khadiah) membawa Muhammad kepada Waraqah bin Naufal bin Asad bin ‘Abd al-‘Uzza, sepupunya. ….. Kala itu ia sudah sangat tua dan penglihatannya sudah kabur. Khadijah berkata, ‘Oh, sepupuku, dengarkan anak laki-laki saudaramu. Waraqah bertanya kepadanya, ‘Anak laki-laki saudaraku, apa yang telah kau lihat?’ Lalu Rasulullah menceritakan apa yang telah ia lihat. Waraqah berkata, ’Sungguh itu adalah namus yang pernah datang kepada Musa bin Imran. Seandainya aku masih muda pada (saat kenabianmu)! Seandainya aku masih hidup ketika sukumu mengusirmu!’ Rasulullah bertanya,’Apakah mereka akan mengusirku?’ ‘Ya’, jawabnya, tak seorang pun yang pernah membawa  apa yang kau bawa sekarang tidak diancam sebagai musuh. Seandainya aku bisa hidup sampai pada hari ketika kau diusir, aku akan membantumu sekuat tenagaku!’”

Lebih lanjut Toshihiko berkata, tidak ada alasan positif untuk meragukan keaslian Hadis ini; sebaliknya, pemunculan kata-kata namus yang terbukti bukan kata-kata Al-Qur’an, sebagai pengganti istilah Al-Qur’an yang lazim Tawrat, sangat mendukung dan keaslian dan kemurniannya. Kata-kata namus, yang benar-benar merupakan titik penting dalam kisah tersebut, jelas merupakan kata Yunani nomos untuk “hukum”, persamaan yang tepat untuk kata-kata Yahudi Tora.

Pada kisah di atas, sekali lagi, membuktikan kepada kita bahwa Waraqah yang beragama Kristen yang masyhur karena pengetahuannya yang luas dan mendalam tentang Kitab Suci Yahudi yang bagus, langsung membenarkan dan memberi keyakinan terhadap pemikiran Muhammad. Walaupun faktanya dikemudian hari kebenaran yang dibawa Nabi Muhammad tidak diterima oleh masyarakat Arab pagan bahkan beliau sendiri diusir dari kampungnya.

Sebagaimana telah digambarkan sebelumnya bahwa lika-liku perjalanan Rasulullah saw. dalam menyebarkan benih-benih ajaran Islam, seringkali mendapatkan pertentangan yang hebat dari berbagai pihak, terutama orang-orang kafir Quraisy. Cemoohan, cacian, pukulan, lemparan batu/ kotoran unta menjadi bagian dalam hidup Rasulullah saw. yang beliau terima sehari-hari. Cobaan, ujian, dan rintangan adalah sahabat Rasulullah yang paling dekat dan sangat akrab dengan beliau. Bagaikan dua sisi mata uang yang tak dapat dipisahkan. Walaupun demikian, Rasulullah tetap sabar dan tabah serta terus bertawakkal kepada Allah SWT. Karena hanya Dialah yang berkuasa atas segala yang ada di langit dan di bumi. Dialah yang Maha Mengetahui segala rahasia langit dan bumi. Dia adalah Rabbun Naasi, pemelihara manusia. Malikun-Naasi, Penguasa Manusia dan Ilahun-Naasi, Tuhan bagi manusia (QS. An-Nas 114: 1-3). Dalam kitab tafsir Al-Azhar, Buya Hamka menafsirkan ayat-ayat tersebut sebagai berikut: “Tuhan adalah Rabbun-Naasi; Pemelihara manusia. Tidak dibiarkan terlantar, dipeliharaNya lahirnya dan batinnya, luarnya dan dalamnya, jasmaninya dan rohaninya, makanannya dan minumannya. Yang dipeliharanya itu termasuk aku, termasuk engkau dan termasuk segala makhluk yang bernama Naas atau Insan dalam dunia ini. Sehingga turun nafas kita, perjalanan dan goyangan jantung siang dan malam yang tidak pernah berhenti, alat-alat pencerna tubuh, telinga alat pendengar, mata alat melihat, hidung alat pembau, semuanya dipelihara terus oleh Maha Pemelihara itu, oleh Rabbun itu.”

Pada ayat kedua, Malikun-Naasi, Buya Hamka (masih dalam kitab tafsir Al-Azhar) menjelaskan, kalau bacaan mim tidak dipanjangkan pada kalimat Malik maka berarti “Penguasa” atau “Raja”. Akan tetapi, jika bacaan mim-nya dipanjangkan dua alif berarti “Yang Empunya”. Menurut Buya Hamka bacaan mim, dipanjangkan atau tidak pada kedua bacaan tersebut, tetap terkandung pengertian Allah itu memang Raja, atau Penguasa yang mutlak atas diri manusia. Ayat selanjutnya, Ilahun-Naasi, Buya Hamka menafsirkan dengan, hanya Dia Pemelihara dan hanya Dia Penguasa, maka hanya Dia pulalah yang Ilah, hanya Dia sajalah yang Tuhan, yang wajar buat disembah dan dipuja. KepadaNyalah kembali segala persembahan dan segala pemujaan.

Orang-orang kafir Quraisy terus menerus menghambat perjalanan dakwah Nabi saw. berbagai cara dan taktik politik mereka terapkan. Mulai dari hal terkecil sampai kepada yang paling besar. Mula-mula mereka (kafir Quraisy) datang menemui paman Nabi saw. yakni Abi Thalib (dia yang menjaga dan membela Nabi dari segala gangguan orang-orang Quraisy) mereka mengancam Abi Thalib supaya mau melarang Nabi mengembangkan dakwah Islam. Kemudian Abi Thalib menyampaikannya kepada Nabi. Mendengar penuturan pamannya tersebut, dengan tegas Nabi berkata: “Demi Allah, paman, kalau mereka meletakkan matahari di kananku dan bulan di kiriku supaya aku tinggalkan pekerjaan ini tidakkah aku tinggalkan sampai Tuhan menentukan kalah menangnya”.

Rencana pertama gagal. kaum Quraisy tidak putus asa. Mereka terus mencari siasat sampai akhirnya mereka sepakat dengan cara kedua. Mereka mengajukan kompromi kepada Nabi. Mereka akan melakukan peribadatan seperti yang dicontohkan Nabi lalu di tahun berikutnya kaum Muslimin harus beribadat seperti kaum Quraisy beribadat. Demikian seterusnya.

Melihat akal buruknya kaum Quraisy, Nabi tetap teguh dengan pendiriannya. Kemudian, turunlah surat al-Kafirun yang memberi tuntunan kepada manusia umumnya.

Artinya, Katakanlah, “Hai orang-orang yang kafir, aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah. Dan kamu bukan penyembah Tuhan yang aku sembah. Dan aku tidak pernah menjadi penyembah apa yang kamu sembah. Dan kamu tidak pernah (pula) menjadi penyembah Tuhan yang aku sembah. Untukmulah agamamu, dan untukkulah, agamaku”.

Kemudian mereka mengajukan usul yang lain, mereka meminta kepada Nabi untuk menghapus ayat-ayat Al-Qur’an yang berisi tentang celaan terhadap tuhan mereka (berhala) dan menggantikannya dengan Al-Qur’an yang lebih lunak. Tentu saja usulan ini ditolak mentah-mentah oleh Rasulullah dan turunlah surat Yunus ayat 15:

Dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat Kami yang nyata, orang-orang yang tidak mengharapkan pertemuan dengan Kami berkata: ‘Datangkanlah Al Qur’an yang lain dari ini atau gantilah dia’. Katakanlah: ‘Tidaklah patut bagiku menggantinya dari pihak diriku sendiri. Aku tidak mengikut kecuali apa yang diwahyukan kepadaku. Sesungguhnya aku takut jika mendurhakai Tuhanku kepada siksa hari yang besar (kiamat)”.

Melihat keteguhan sikap Rasulullah saw. itu, maka pemuka-pemuka Quraisy melacak dan mempelajari gerakan yang dikembangkan Rasulullah saw. dengan mendekati beliau. mereka belajar Al Qur’an, tauhid dan rahasia-rahasia kekuatan Islam (the secrets of Islamic strength). Dengan maksud mencari kelemahannya untuk kemudian menjatuhkannya. Singkat cerita, Rasulullah pun mengajari mereka dengan harapan pembesar-pembesar Quraisy itu mengikuti jejak-jejak beliau. Sampai akhirnya datang seorang lelaki buta yang lebih dahulu masuk Islam. Dia adalah Abdullah bin Ummi Maktum. Waktu terus bergulir. Tanpa mengetahui (karena buta) kondisi Rasulullah saw. yang sedang sibuk memberi penjelasan kepada pembesar-pembesar Quraisy Abdullah terus mengajukan pertanyaan. Atas sikapnya itu, Rasulullah saw. kurang menyukainya. Maka tak lama kemudian Allah menurunkan wahyu yang berisi sindiran terhadap sikap Nabi tersebut.

Dia (Muhammad) bermuka masam dan berpaling, karena telah datang seorang buta kepadanya. Tahukan kamu barangkali ia ingin membersihkan dirinya (dari dosa). Atau dia (ingin) mendapatkan pengajaran, lalu pengajaran itu memberi manfaat kepadanya? Adapun orang yang merasa dirinya serba cukup, maka kamu melayaninya. Padahal tidak ada (celaan) atasmu kalau dia tidak membersihkan diri (beriman). Dan adapun orang yang datang kepadamu dengan bersegera (untuk mendapatkan pengajaran), sedang ia takut kepada (Allah), maka kamu mengabaikannya. Sekali-kali jangan (demikian)! Sesungguhnya ajaran-ajaran Tuhan itu adalah suatu peringatan, maka barangsiapa yang menghendaki, tentulah ia memperhatikannya”. (QS. Abas: 1-12)[3]

Nabi Isa as. Berkata, “Jalan menuju keburukan terbentang luas, dan orang yang melewatinya beribu-ribu; sedangkan jalan menuju kebaikan sempit dan sedikit sekali orang yang menapakinya.” Sebagai seorang Rasul atau sebagai rahmatan lil alamin (rahmat bagi alam) tidak mungkin Nabi Muhammad saw. terpedaya oleh bujuk rayu orang-orang kafir Quraisy. Nabi saw. sangat memahami segala rintangan yang akan menghadangnya. cobaan yang paling besar adalah cobaan para utusan Allah (Rasulullah). Keteguhan inilah yang mengantarkan baginda Rasul kepada kesuksesan misinya yang luar biasa di kemudian hari. Beliau berhasil menaklukan jazirah Arab dengan ajaran Islam yang dibawanya dan panji Islam yang dikibarkannya dalam waktu relatif singkat.

DAFTAR PUSTAKA

Aep Kusnawan, M.Ag dkk., Ilmu Dakwah (Kajian Berbagai Aspek), IKAPI, Jakarta, 2004.

Amin Ahsan Islahi, Serba-Serbi Dakwah, Pustaka, Bandung, 1989.

Prof. H.M. Toha Yahya Omar, MA. Islam dan Dakwah, Zakia Islami Press, Jakarta, 2004.

Prof. Dr. Moh. Ali Aziz, M.Ag. Ilmu Dakwah (Edisi Revisi), Kencana Prenada Media Group, Jakarta, 2009.

Rafy Sapuri, M.Si, Psikologi Islam: Tuntunan Jiwa Manusia Modern, Rajawali Pers, Jakarta, 2009.

Toshihiko Izutsu, Relasi Tuhan dan Manusia: Pendekatan Semantik Terhadap ‘Al-Qur’an, PT. Tiara Wacana Yogya, Yogyakarta, 2003.


[1] Waraqah adalah pemeluk agama Kristen pada zaman paganisme.

[2] Toshihiko Izutsu adalah seorang professor pada Institut Studi Kebudayaan dan Bahasa, Universitas Kelo, Tokyo. Ia pernah menjadi professor tamu di Institute  of  Islamic Studies, McGill Univercity, Montreal, Canada, dan mengajar mata kuliah Teologi dan Filsafat Islam di Universitas tersebut.

[3] Lebih jelasnya lihat, Prof. H.M. Toha Yahya Omar, MA. Islam dan Dakwah, Zakia Islami Press, Jakarta, 2004. hal. 85-87

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: