***** Dzuzant's *****

"Tanpa Berkarya, Sungguh Kita Telah 'Mati'"

Sinergi Iqro’

Posted by dzuzant pada Mei 16, 2010

Oleh Dedy Susanto

Membaca (iqro’) adalah suatu gerbang pengetahuan yang dengannya manusia dapat menjelajahi seluruh sudut semesta tanpa harus keliling semesta. Manusia dapat mendekati matahari tanpa merasa kepanasan. Dapat berjumpa dengan presiden Amerika, Eropa, Jerman dan Negara-negara lain serta dapat berkenalan dengan pemikir-pemikir dunia tanpa harus bolak-balik naik pesawat.

Membaca tidak hanya terfokus pada buku-buku, literatur-literatur atau hal-hal yang bersifat fisik seperti alam dan seisinya tapi juga sesuatu yang abstrak (hari akhir, surga dan neraka serta perputaran siang dan malam) pun mesti kita baca dan hayati. Tuhan membekali akal pikiran (al-Natiq) pada manusia untuk berpikir, merenung dan menghayati seluruh ciptaan-Nya. Sebab di sanalah ia akan berjumpa dengan cakrawala luas-Nya serta mendapatkan sesuatu yang lebih berharga dari emas maupun perak, yakni hikmah.

Pertama kali Nabi Muhammad mendapat perintah dari Tuhannya adalah perintah “membaca”. Dalam salah satu keterangan, perintah “membaca” atau iqro’ ini diulang-ulang sampai tiga kali oleh malaikat Jibril kepada Nabi Muhammad saw. Iqro’ yang pertama mengandung arti mengetahui, yakni mengetahui segala sesuatu yang tidak diketahuinya. Karena dibalik sesuatu ada sesuatu yang berpangkal pada Yang Maha Satu. Kedua, Iqro’ ini bermakna memahami. Melalui proses membaca manusia dapat memahami segala sesuatu yang ia ketahui. Yang mana pemahaman ini dapat mengantarkannya pada langkah berikutnya, yaitu Iqro’ yang ketiga yang memiliki arti mengamalkan. Suatu amalan akan lebih sempurna manakala telah melewati langkah-langkah (steps) sebelumnya, mengetahui dan memahami. Dengan lain kata, amal di sini merupakan hasil atau buah dari mengetahui dan memahami. Ketiga proses ini saling berkaitan dan tidak dapat dipisahkan.

Sebagai bahan bacaan, buku merupakan teman terbaik (the best frend) sepanjang sejarah. Ahmad bin Ismail mengilustrasikan buku sebagai teman bicara yang tidak mendahuluimu. Teman bicara yang tidak memanggilmu ketika kamu bekerja. Teman bicara yang tidak memaksamu berdandan ketika menghadapinya. Teman kencan yang tidak menyanjungmu. Kawan yang tidak membosankan. Penasehat yang tidak mencari-cari kesalahan.

Tidak berlebihan kiranya jika penulis katakan, orang yang akrab dengan buku akan menjadi orang-orang besar (sukses).  Tiadalah Aristoteles, Plato, Descartes, Ibnu Rusyd, Imam Ghazali, Ibnu Khaldun, Shakespeare, Ali Syari’ati, Jalaluddin Rumi hingga Jalaluddin Rahmat menjadi orang-orang besar yang diperhitungkan eksistensinya di kancah dunia tanpa kedekatannya terhadap buku (kutu buku). Mereka besar karena buku. Karena buku pula mereka mampu berpikir melampaui zamannya. Buku adalah dokumentasi pengetahuan yang mesti kita pelihara agar tidak mengalami kepunahan.  Tak ayal jika dikemudian hari buah pikirannya menjadi rujukan atau referensi penting dalam dunia akademik maupun non akademik.

Jika demikian, apa yang membuat diri kita malas membaca?  Tidakkah kita perhatikan bagaimana Negara-negara maju seperti Amerika, Eropa dan Jerman  memimpin dunia, karena keberhasilannya memelihara budaya ‘baca’ dan semangat belajar dan belajar. Tiada waktu tanpa membaca buku. Membaca sudah menjadi nafas kehidupannya. Dalam ajaran Islam, orang harus lebih baik dari sekarang. Jika tidak, ia termasuk orang yang rugi. Rugi karena telah melalaikan waktu.

Kalau kita perhatikan masyarakat Madura sekarang ini telah kehilangan semangat bacanya. Jangankan anak-anak SD yang rajin membaca dari kalangan mahasiswa, guru, dan kalangan elit pun malas membaca. Mereka bukanlah orang yang tidak mengetahui pentingnya membaca justru mereka sangat memahami betul manfaat dari membaca itu.

Tidaklah mudah membangun kultur (budaya) baca. Apalagi dalam lingkup yang cukup besar. akan tetapi kekhawatiran seperti ini jangan sampai menyurutkan optimis kita. Kita harus memulainya dari diri sendiri dan terus menerus memberikan rangsangan kepada orang lain terutama kepada kalangan pemudanya. Karena mereka adalah asset bangsa di masa depan. Rangsangan di sini sangat penting untuk mempengaruhi orang lain. Rangsangan ini bisa berupa memotivasi. Kita harus membangunkan “singa” dalam dirinya. Singa yang oleh para pemikir disebut sebagai ‘potensi terpendam’ yang ada di setiap diri manusia.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: