***** Dzuzant's *****

"Tanpa Berkarya, Sungguh Kita Telah 'Mati'"

STRATEGI DAKWAH ANTARBUDAYA

Posted by dzuzant pada Mei 16, 2010

By Dedy Susanto

Istilah strategi kerap kali kita dengar dalam peperangan (war) maupun hal-hal yang berkaitan dengan kemiliteran. Straregi di sini berarti ‘ilmu tentang perencanaan dan pengerahan operasi militer secara besar-besaran’ atau kemampuan yang terampil dalam menangani dan merencanakan sesuatu.[1] Mengingat sangat pentingnya sebuah strategi, maka dalam penyebaran ajaran-ajaran Islam atau aktivitas dakwah pun sangat diperlukan strategi-strategi yang mendukung tercapainya misi dakwah tersebut. Sebab, proses aktivitas dakwah yang tidak dilandasi dengan strategi-strategi cerdas akan menghambat jalannya kesuksesan dakwah. Hampir dipastikan, dakwah tanpa strategi akan mengalami kegagalan. Singkat kata eksistensi strategi turut menentukan keberhasilan aktivitas dakwah.

Dalam sejarah Islam, Rasulullah saw. dalam menyebarkan ajaran-ajaran Islam kepada umat manusia menggunakan beragam strategi jitu, halus dan langsung mengenai sasaran. Tak ayal jika dalam waktu singkat beliau mampu menggiring umat manusia ke jalan yang benar, yakni Islam. Selain itu, yang menjadi kunci kesuksesan dakwah beliau adalah kejujuran dan keluhuran akhlaknya.[2] Aisyah, istri beliau, mengatakan bahwa akhlak Nabi saw. adalah Al-Qur’an. Dalam Al-Qur’an Allah menganjurkan aktivitas dakwah hendaknya dilakukan dengan hikmah[3] dan mauidzah hasanah.[4]

Merumuskan Strategi Dakwah Antarbudaya

Strategi dakwah antarbudaya merupakan suatu perencanaan (planning) matang dan bijak tentang dakwah Islam secara rasional untuk mencapai tujuan Islam dengan mempertimbangkan budaya masyarakat, baik segi materi dakwah, metodologi maupun lingkungan tempat dakwah berlangsung.[5]

Mengenali tempat, situasi dan kondisi masyarakat terlebih dahulu merupakan langkah awal yang harus dilakukan seorang penceramah (Da’i). Hal ini untuk memudahkan perumusan strategi yang akan digunakan serta materi dakwah yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat. Sebab, dalam menentukan sebuah strategi dakwah seorang Da’i harus jeli dalam melihat kondisi mad’u, sehingga aktivitas dakwah akan lebih mantap, efisien, dan mengenai sasaran.[6] Dakwah seperti ini akan lebih efektif.

Strategi dakwah litas budaya dapat kita lihat pada sejarah Wali Songo (9 wali) dalam menyebarkan ajaran-ajaran Islam dan mentransformasikan nilai-nilai keislaman kepada masyarakat. Seperti Sunan Kalijaga[7] dalam berdakwah beliau tidak memangkas budaya-budaya yang telah berkembang di tengah-tengah masyarakat. Justru budaya tersebut dijadikan sebagai media penyebaran Islam. Pada masa itu, kultur yang paling diminati masyarakat adalah wayang kulit. Hanya saja pesan-pesan yang terkandung dalam pergelaran wayang kulit tersebut masih kental dengan ajaran-ajaran Hindu. Maka sunan Kalijaga memasukkan nilai-nilai Islami ke dalam cerita wayang kulit tersebut. Sehingga disadari ataupun tidak, masyarakat mulai tertarik dengan ajaran yang dibawa sunan Kalijaga. Dari situlah Islam melebarkan sayapnya.

Dari proses pelaksanaan dakwah sunan Kalijaga di atas, mengindikasikan kepada kita bahwa tidak semua budaya yang bersumber dari non Islam itu jelek sehingga harus dipangkas sampai habis tapi bagaimana seorang da’i menyelipkan nilai-nilai keislaman di dalamnya. Di sini dibutuhkan kecerdikan seorang da’i.

Justru sikap semena-mena terhadap budaya-budaya warisan nenek moyang akan membangkitkan kobaran amarah dari masyarakat setempat yang kemudian mengerucut pada kekacauan (chaos) dan kehancuran peradaban. Sebagaimana pernah dialami Bapak Bangsa Turki Mustafa Kemal Attaturk. Ketika dia menabuh gong modernisasi di Turki. Ia melakukan strategi potong kompas, dengan menanggalkan seluruh atribut-atribut budaya lama dan digantikan dengan budaya-budaya barat yang dianggapnya modern.[8] Akhirnya Turki pun mengalami kegagalan dan keterpurukan budaya.[9] Seharusnya sikap seorang da’i tidak ceroboh seperti sikap Kemal Attaturk tadi.

Melacak Strategi Zionisme

Memasuki era keberlimpahan komunikasi dan informasi, peranan media-media massa (mass media) seperti TV, Koran dan Internet mendominasi manusia abad modern. Media massa -sebagaimana dikatakan Syeikh Abdullah Nashih Ulwan- merupakan sarana paling efektif dalam menyampaikan pesan-pesan atau informasi terhadap publik.[10] Situasi seperti ini yang kemudian dijadikan kesempatan oleh gerakan-gerakan; freemasonry, komunis, zionisme, gerakan kaum salib (salibisme) dan zending serta gerakan kaum Yahudi untuk menghancurkan umat Islam. Dengan cara melalaikan mereka melalui hiburan-hiburan[11] dan sejenisnya. Media massa dijadikan sarana untuk menyebarkan virus-virus mematikan. Berikut rekaman gerakan musuh-musuh Islam yang dikutip oleh Syeikh Abdullah:

Orang-orang komunis dalam perjanjian rahasianya berkata: “Dan kita telah berhasil dalam menyebarkan sarana-sarana yang meruntuhkan agama berupa majalah-majalah, surat kabar-surat kabar, kisah-kisah, drama dan ceramah-ceramah dan tulisan-tulisan yang menawarkan fahan atheisme dan mengajak kepadanya. Serta mengandung sindiran dan ejekan terhadap agama dan para tokohnya dan seruan kepada melulu hanya ilmu pengetahuan (tanpa dengan agama) yang kemudian dijadikan Tuhan yang berkuasa.”

Ketika ditanya Karl Max pendiri pertama aliran komunisme, ‘Apakah pengganti akidah Uluhiyah (ketuhanan) itu?’ ia menjawab, ‘Penggantinya ialah tempat dan pentas hiburan. Oleh karena itu lalaikanlah mereka dari akidah ketuhanan dengannya’.

Dalam protokolat Yahudi yang ke-2 disebutkan : “… Surat kabar yang dipegang oleh pemerintahan yang sedang berjalan di dunia ini adalah suatu kekuatan besar, yang dengannya kita akan berhasil menggiring umat manusia. Karena surat kabar itu merupakan wadah inspirasi umat, berisi tuntutan-tuntutan orang banyak, memberitakan tentang keluhan-keluhan dan juga menyebarkan keresahan dan kegelisahan rakyat jelata. Sedangkan pemerintah tersebut tidak tahu bagaimana cara menggunakan senjata ini dengan cara yang benar. Akibatnya mereka jatuh ke tangan kita. Dan lewat mass media inilah kita lolos, namun kita tetap berada di balik pagar. Lalu, dengan keuntungan surat kabar ini kita dapat menimbun emas. Dan bila pekerjaan semacam ini menuntut kita akan korban manusia hingga mengalirlah darah mereka, maka kita akan menyerahkan korban yang tidak sedikit dari bangsa kita. Tetapi setiap korban sebanding dengan ribuan orang selain bangsa kita di hadapan Allah.” Dalam protokolat lain juga disebutkan, “Kita harus bekerja keras supaya akhlak dan budi pekerti di berbagai tempat menjadi runtuh. Dengan begitu, mudah bagi kita untuk berkuasa. Sesungguhnya Freud itu dari kelompok kita. Ia akan tetap menampilkan teori-teori yang berhubungan dengan soal seks di tengah sinar matahari dunia ini agar tak ada dalam pandangan para pemuda suatu zat yang dianggap suci dan dikuduskan (Tuhan) sehingga perhatian mereka yang paling benar dalam hidupnya adalah memikirkan soal kepuasan seks. Ketika itulah akhlak telah menjadi runtuh !”.

Pernyataan di atas diperkuat dengan teori yang dimunculkan Sigmund Freud sendiri yang mengatakan, karakter potensi seksual (instink of race) manusia adalah sebagaimana kebutuhan jasmaniyah. Artinya, jika tidak disalurkan atau dipenuhi, maka akan membawa pada kegelisahan bahkan kematian. Sebab itu bapak psikonalisis ini menganjurkan gaya hidup (life style) liberal, free love dan free sex. “Biarkan pemuda pemudi bebas bagai burung di angkasa”.

Kita perhatikan pernyataan Syeikh Abdullah, bukankah mereka mengatur taktik agar anda tenggelam dalam berbagai permainan, tenggelam dalam syahwat dan kemewahan melaui televisi, bioskop dan panggung sandiwara ? Dengan begitu, otak orang-orang Islam hampa dari pikiran-pikiran sehat kehidupan merekapun kosong dari kegiatan-kegiatan yang bersifat membangun agama dan berjihad di jalan Allah serta ikhlas membela tanah air.[12]

Semua pernyataan di atas dan realitas yang terjadi sekarang telah di gambarkan Rasulullah beberapa abad yang lalu, “Sungguh akan ada sekelompok orang dari kaumku yang menghalalkan farj (kemaluan), sutera, minuman keras dan alat-alat musik.”


[1] Lebih jelas lihat, H.Sukriadi Sambas, M.Si., Dakwah Damai: Pengantar Dakwah Antarbudaya, Bandung, Rosdakarya, 2007: hlm. 138

[2] QS. Al-Ahzab: 21.

[3] Menurut Lukman al-Hakim yang dinamakan hikmah atau kebijakan adalah kebenaran dalam berbicara, menyampaikan amanat, meninggalkan apa yang tidak bermanfaat bagi dirinya, menahan pandangan mata, mencegah lidah untuk berbicara yang tidak benar, menetralisasi ketamakan.

[4] QS. An-Nahl 16: 125.

[5] H.Sukriadi Sambas, M.Si., Dakwah Damai: Pengantar Dakwah Antarbudaya, Bandung, Rosdakarya, 2007: hlm. 138

[6] Lebih jelas lihat: M. Munir, S.Ag. MA. dkk., Manajemen Dakwah, Jakarta, Kencana, 2009.

[7] Nama aslinya adalah Raden Rahmat. Karena kepatuhan beliau menjaga tongkat gurunya, Sunan Bonang, di tepi sungai, maka beliau dijuluki Sunan Kalijogo yang berarti ‘Penjaga kali (sungai)’.

[8] Hal ini bertentangan dengan kaidah-kaidah yurisprudensi Islam, yaitu “Memelihara warisan lama yang baik dan mengambil inovasi baru yang lebih baik”.

[9] H. Sukriadi Sambas, M.Si., Dakwah Damai: Pengantar Dakwah Antarbudaya, hlm. 144

[10] Lebih jelas lihat: Syeikh Abdullah Nashih Ulwan, Islam Melawan Gejolak Mass Media, Ramadhani, Solo, 1991; hlm. 7

[11]Dalam pandangan Imam Asy-Syatibi, “Hiburan, permainan dan bersantai adalah mubah atau boleh, asal tidak terdapat suatu hal yang terlarang”. Selanjutnya beliau menambahkan, “Namun demikian  hal tersebut tercela dan tidak disukai oleh para ulama, bahkan mereka tidak menyukai seorang lelaki yang dipandang tidak berusaha untuk memperbaiki kehidupan di dunia dan tempat kembalinya di akhirat kelak, karena itu ia telah menghabiskan waktunya dengan berbagai macam kegiatan yang tidak mendatangkan suatu hasil duniawi dan ukhrawi”.

[12] Ibid, hlm. 64

DAFTAR PUSTAKA

Aep Kusnawan, M.Ag. et. al, Ilmu Dakwah: Kajian Berbagai Aspek, Bandung, Pustaka Bani Quraisy, 2004.

Aep Kusnawan, M.Ag. dkk., Komunikasi dan Penyiaran Islam, Bandung, Benang Merah Press, 2004.

H.Sukriadi Sambas, M.Si. et. al, Dakwah Damai: Pengantar Dakwah Antarbudaya, Bandung, Rosdakarya, 2007.

Syeikh Abdullah Nashih Ulwan, Islam Melawan Gejolak Mass Media, Solo, Ramadhani, 1991.

M. Munir, S.Ag. MA. dkk., Manajemen Dakwah, Jakarta, Kencana, 2009.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: