***** Dzuzant's *****

"Tanpa Berkarya, Sungguh Kita Telah 'Mati'"

INDAHNYA DI TROTOAR

Posted by dzuzant pada Mei 28, 2010

Oleh Dedy Susanto

Sepanjang jalan raya ramai oleh suara bising transportasi yang berlalu-lalang dan suara canda-tawa pemuda-pemudi yang sedang asyik berkumpul bersama teman-temannya di trotoar (pinggir jalan raya). Entah apa yang sedang mereka perbincangkan. Urusan bangsakah ? Urusan duniakah ? urusan agamakah ? Atau mereka sibuk memikirkan nasib manusia sebagaimana ulama sibuk memikirkan umatnya.

Sore hari adalah waktu yang tepat bagi mereka untuk berkumpul. Karena matahari sudah tidak terasa panas lagi. Suasananya adem. Membuat mereka betah berlama-lama. Biasanya mereka suka ngumpul di pinggir jalan raya. Sekedar ngobrol dan cuci mata alias lihat wanita-wanita cantik yang berlalu lalang.

Entah apa yang membuat tempat ini begitu diminati mereka. Tidak ada secangkir kopi yang menemani apalagi buku-buku bacaan. Hanya ada gitar yang selalu mereka mainkan dengan diiringi lirik-lirik lagu popular. Seperti Ungu, Peterpen, ST12, The Virgin dan Mulan Jameela. Hidup mereka santai, senang seperti tiada beban walaupun dalam hatinya seribu beban menterornya. Mereka menemukan kebahagiaannya di trotoar bukan di rumahnya. Rumahnya bagaikan sel penjara. Setiap saat dimarahi dan dipukul.

Jangan salahkan mereka. Mereka sedang sibuk mencari jati dirinya. Mencari kebahagiaan sejati. Mereka sedang berproses menjadi pribadi-pribadi yang luar biasa. Mereka sekumpulan muda-mudi, generasi bangsa yang sedang belajar bermusyawarah dengan teman-temannya. Mereka jalin silaturrahim. Mereka peduli terhadap teman-temannya. Mereka kompak dalam memecahkan masalah. Mereka tidak membuat keonaran di jalan raya. Tidak merampas hak orang lain dan barang dagangan di pasar. Mereka hanya berkumpul mencari kesenangannya, kebahagiaan, dan suasana baru bersama teman-temannya. Mereka tidak tahu –atau tidak tahu menahu- tentang persoalan bangsa dan negara yang semakin membengkak. “Biarlah itu menjadi urusan presiden dan menteri-menterinya.” Katanya. Mereka tak perduli. Yang penting bagi mereka hidup senang. “Pemerintah aja gak peduli pada kita kenapa kita repot-repot peduli terhadap mereka. Hidup mereka ya hidup mereka. Hidup kita ya hidup kita. Kumaha urang wae atu.”.

Alangkah sedihnya negeri ini. Melihat bangsanya tak lagi perduli terhadapnya. Presiden meneriakkan kesejahteraan dan keamanan  tapi rakyat malah menderita kekacauan tumbuh subur di mana-mana. Para ulama dan cendekiawan berteriak menasehati umatnya, mengingatkan bahaya free sex, pergaulan bebas. Tapi justru kemaksiatan merajalela. Kekayaan alamnya yang melimpah. Tak mampu mensejahterakan rakyatnya. Siapakah yang salah ? [Bandung, 11.05.’10/ 07:03 AM]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: