***** Dzuzant's *****

"Tanpa Berkarya, Sungguh Kita Telah 'Mati'"

Dunia Tanpa Bayangan?

Posted by dzuzant pada November 16, 2011

Sebuah pepatah Tiongkok Kuno menyatakan:

Berikanlah dirimu sebuah momen kedamaian,

dan engkau akan mengerti,

betapa bodohnya terburu-buru itu.

 

Belajarlah untuk hening,

dan engkau akan mengetahui,

dirimu telah terlalu banyak bicara.

 

Jadilah bajik,

dan engkau akan menyadari,

dirimu telah terlalu keras menghakimi orang lain.

Bayangan berlindung dibalik wujud sejati. Bayangan tak dapat dimusnahkan kecuali dengan cahaya sejati.

“Aku tidak memiliki kekuatan besar, makanya aku tidak bicara. Tapi, aku yakin dalam tubuhku tersimpan kekuatan dahsyat, karena itu, aku bertindak.”

Akal     : Bayangan tidak bergerak dalam kegelapan, karena dalam kegelapan ia tak ada. Dan, ia tidak menyukai “kegelapan” dan “cahaya”, karena dalam keduanya ia sirna.

Aku     : Bukankah bayangan ada karena cahaya?

Akal     : Benar, tapi cahaya sejati tidak akan menghasilkan bayangan.

Aku     : Cahaya  sejati?

Akal     : Cahaya yang sinarnya ribuan kali lipat lebih terang dari cahaya biasa. Cahaya sejati berdiri di atas kebenaran.

Aku     : Apakah bayangan itu jahat?

Akal     : Ya.

Aku     : Mengapa?

Akal     : Karena bayangan sendiri adalah kegelapan.

Aku     : Siapakah bayangan itu?

Akal     : Wujud lain dari hakikat. Tapi, ia bukan bagian dari hakikat.

Aku     : Bagaimana ia ada?

Akal     : Cahaya. Cahaya yang membentuknya.

Aku     : ???

Akal     : Kegelapan yang dibentuk oleh cahaya.

Aku     : Bukankah bayangan ada karena ketidakmampuan cahaya menembus hakikat?

Akal     : Kamu benar.

Aku     : Apakah bayangan berbicara?

Akal     : Dalam diam ia bicara.

Aku     : Apakah mungkin ia dibinasakan?

Akal     : Bayangan tidak mungkin dibinasakan, tapi ia bisa dihilangkan.

Aku     : Kok, bisa?

Akal     : Musnah berarti tidak ada atau hancur. Sedangkan bayangan tidak bisa hancur. Selama hakikat ada, maka ia pun ada. Hilang tidak selalu hancur, ia berada di suatu tempat yang kita tidak mengetahuinya.

Aku     : Bagaimana ia hilang?

Akal     : Dengan akal.

Aku     : Apakah bayangan punya nafsu.

Akal     : Bayangan hanya bergerak-bergerak mengikuti si empu nafsu.

Aku     : Bagaimana hubungan bayangan dengan hakikat?

Akal     : Bayangan ada karena adanya hakikat, bukan sebaliknya.

Aku     : Siapakah hakikat itu?

Akal     : Tergantung darimana kamu melihatnya.

Aku     : Maksudnya?

Akal     : Dalam kacamata awam, hakikat itu adalah seonggok benda berwujud. Sedangkan dalam kacamata sufi/filosof, hakikat itu adalah cahaya sejati, yang memiliki segala “Maha”. Dzuzant@gmail.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: