***** Dzuzant's *****

"Tanpa Berkarya, Sungguh Kita Telah 'Mati'"

MERENGKUH SPIRIT PUASA DALAM BENCANA

Posted by dzuzant pada November 16, 2011

Secara historis, puasa sudah ada sejak masa sebelum Islam. Statemen serupa dapat dijumpai dalam Qur’an surat al-Baqarah ayat 183., “….sebagaimana telah Aku wajibkan (puasa) kepada orang-orang sebelummu.” Nabi Musa a.s. dan Nabi Isa a.s. melakukan ibadah puasa. Demikian juga Nabi Daud a.s. berpuasa selama 7 hari ketika puteranya sedang sakit. Tidak hanya dari kalangan orang-orang yang beriman, masyarakat paganisme (penyembah berhala) pun banyak yang melakukan puasa. Seperti orang-orang Mesir kuno, Romawi, dan penyembah berhala di India juga berpuasa. Hanya saja puasa mereka tidak sama satu sama lain.
Bagi umat Islam istilah puasa merupakan istilah yang sangat sakral. Puasa selalu identik dengan bulan suci Ramadhan. Karena di bulan suci ini selama satu bulan penuh umat Islam melaksanakan ibadah puasa secara bersama-sama. Bulan Ramadhan adalah bulan spesial umat Islam. Bulan penuh berkah dan ampunan Allah. Perilaku baik yang dilakukan di bulan ini akan menuai pahala yang berlipat ganda. Begitu juga dengan puasa, perintah puasa di bulan Ramadhan adalah kewajiban mutlak yang tidak dapat ditawar lagi. Melalaikannya adalah dosa.
Puasa tidak sekedar menahan rasa lapar dan haus. Tetapi suatu upaya melatih jasmani dan didikan rohani. Dalam kondisi lapar (puasa) fisik kita lemah sehingga tidak mudah dimanjakan oleh keinginan-keinginan hawa nafsu. Dan tidak banyak waktu yang mubazir. Malah, kondisi seperti ini akan mendatangkan benefit yang menakjubkan bagi dirinya. Seperti telah dijanjikan Allah dalam hadis Qudsi, bahwa seorang hamba yang mau mengosongkan perutnya dan menjaga lisannya, akan diajarkan kebijakan kepadanya. Sehingga kebijakan itu menjadi cahaya, bukti, obat dan rahmat bagi dirinya.
Latihan fisik atau jasmani tidaklah cukup tanpa disertai didikan rohani. Masih ingatkah kita, ungkapan Rasulullah Saw. pasca perang Badar, perang paling besar dalam sejarah Islam, beliau bersabda bahwa perang yang paling besar adalah perang melawan hawa nafsu. Disadari atau tidak manusia sering bergumul dengan hawa nafsu. Dan hawa nafsu itu menggiring kita kepada kenistaan. Apabila kita membiarkannya, walaupun jasmani nampak sehat tetapi rohaninya sekarat. Didikan rohani sangat penting untuk memancarkan bias-bias kearifan di setiap aspek hidupnya.
Selain itu, puasa sebagai sarana untuk mengoptimalkan kecerdasan tiga dimensi, kecerdasan spiritual, intelektual dan emosional. Tiga kecerdasan ini bagaikan tiga serangkai yang tidak dapat dipisahkan. Karena ketiganya memiliki sisi-sisi yang saling berhubungan satu sama lain. Dengan tiga dimensi kecerdasan tersebut manusia akan sampai pada kehidupan paripurna. Manusia tidak cukup hanya memiliki salah satu dari tiga kecerdasan itu tanpa menguasai kecerdasan yang lain. Misalnya, hanya memiliki kecerdasan intelektual. Otaknya cerdas, menguasai berbagai ilmu pengetahuan. Pengetahuannya tidak diragukan lagi. Bahkan sering dielu-elukan masyarakat disekitarnya. Tetapi ia miskin spiritual. Maka kecerdasan intelektualitasnya tidak akan mampu menyelamatkan dirinya dari virus-virus hawa nafsu. Dengan kata lain, pinter tapi gak bener. Para koruptor di negeri ini banyak dari kalangan orang-orang yang memiliki high intellectual. Tapi justru daya intelektualnya menjerumuskan dirinya kepada degradasi nilai dan moral. Kasus Gayus adalah bukti dari sekian contoh yang belum terungkap. Begitu juga sebaliknya, jika kecerdasan emosional tidak diimbangi dengan kecerdasan intelektual dan kecerdasan spiritual bisa jadi keblinger.
Dengan tiga modal kecerdasan di atas, manusia dalam menempuh kehidupannya berada dalam zona aman. Artinya, apabila suatu waktu diterjang bencana ia tahu cara menyikapinya. Karena dia memahami hakikat dari bencana tersebut. Bencana atau musibah bila disikapi dengan sabar dan tawakkal akan menjadi suatu kebaikan bagi dirinya.
Tate Qomaruddin –sebagaimana yang dimuat dalam majalah Percikan Iman edisi bulan November 2006- menyebutkan beberapa peran musibah sebagai berikut. Pertama, ujian. Untuk mengetahui kadar keimanan seseorang Allah pasti mengujinya terlebih dahulu. Ujian tidak selalu berwujud bencana. Kekayaan, anak-anak, istri, dan kelaparan adalah bagian dari bentuk ujian. Kedua, penghapus dosa. Dalam sebuah hadis dikatakan, “Akan terus menerus ujian menimpa mukmin dan mukminah yang menimpa jiwanya, anaknya, dan hartanya, hingga dia berjumpa Allah Ta’ala dalam keadaan tidak punya dosa.” (HR. Tirmidzi). Ketiga, peringatan Allah terhadap orang-orang yang lalai. Manusia tidak lepas dari dua hal, yaitu salah dan lupa. Terkadang ia lupa bahwa Allah itu berkuasa. Dan ia baru menyadari setelah ditimpa musibah. Keempat, sebagai azab dari Allah Swt. bagi orang-orang zalim dan orang-orang durhaka. Kelima, bagi yang tidak terkena musibah, selain turut berduka, ia juga wajib bersyukur. Dan bersyukur yang paling produktif dalam konteks ini –menurut Tate Qomaruddin- adalah dengan cara membantu saudara-saudara kita yang menjadi korban.
Beberapa tahun terakhir bencana datang bertubi-tubi mulai dari Tsunami, Porong Sidoarjo, Mentawai, banjir Bandang, Wasior, Merapi hingga derita para pahlawan devisa Negara, para TKI. Belum lagi bencana yang tercium media. Tentu saja musibah yang terjadi bukan bentuk pelecehan Allah terhadap manusia. Musibah atau bencana merupakan bagian dari hidup. Selama masih ada nafas kehidupan musibah akan terus mengiringinya. Persoalannya, bagaimana kita memaknai dan menyikapinya bila hal itu muncul di hadapan kita?
Jika bencana datang bukankah lebih afdhal bila ia mampu menerjemahkan spirit puasa dan merefleksikan dalam realitas kehidupannya. Terutama ketika menghadapi bencana tersebut. Dalam ibadah puasa tersirat suatu makna yang luar biasa (extra ordinary) jika kita memahaminya. Di dalam puasa jasmani dan rohani kita dididik agar jiwa dan raga tunduk dan bersujud kepada Yang Maha Kuasa dalam situasi dan kondisi apapun. Ketaatan jasmani dan rohani akan meredam amarah Tuhan kepada hamba-Nya.
Dewasa ini, beragam bencana muncul di bumi Indonesia seharusnya ini menjadikan pribadi kita lebih baik. Berkali-kali kuasa Tuhan ditampakkan kepada umat manusia hanya diterima sebatas yang ia lihat. Bahkan munculnya berbagai fenomena “aneh” telah memalingkan keyakinan kita kepada kekufuran. Mereka menafikan kuasa Tuhan di dalamnya. Sungguh ini suatu keniscayaan yang sangat fatal. Seharusnya dengan munculnya berbagai potret fenomena yang di luar kemampuan logika manusia akan menambah keyakinan dan ketaatan kita kepada Sang Pencipta semesta.

Apabila pemikiran seperti ini dibiarkan bukan tidak mungkin masyarakat akan terjebak pada paham naturalisme, yang beranggapan bahwa dasar dari semua gerak di alam ini adalah bersumber dari nature atau alam. Dalam paham ini Tuhan sudah tidak tampak lagi. Dengan kata lain, Tuhan tidak memiliki intervensi terhadap apa yang terjadi di alam raya ini. Paham seperti inilah yang kemudian membawa manusia kepada paham materialisme. Paham ini beranggapan karena Tuhan tidak dapat dialami melalui pengalaman inderawi atau Tuhan itu immateri, maka Ia dianggap tidak ada. Yang ada hanyalah sesuatu yang bersifat material. Karenanya dalam paham ini orang-orang menyakini setelah kehidupan ini tidak ada lagi urusan manusia, maka mereka mengumpulkan kekayaan demi kesenangannya di dunia. Kemudian jadilah mereka masyarakat materialistik.
Hal seperti inilah yang sangat dikhawatirkan di zaman modern seperti sekarang. Apalagi dengan munculnya kemajuan teknologi, maka sangat mungkin masyarakat berlomba-lomba meraih kepuasan duniawi dengan mengorbankan ukhrawi. Puasa yang mereka lakukan di bulan Ramadhan atau di bulan-bulan lainnya tidak akan mempengaruhi dirinya menjadi pribadi yang lebih baik. Oleh karenanya sebagai umat Islam kita mesti hati-hati dengan sesuatu yang baru. Pertahankan hal lama yang baik dan ambillah yang lebih baik sesuatu yang baru. Disini penulis mengharapkan terutama terhadap diri penulis sendiri, supaya puasa itu dijadikan sebagai pengendali diri dan filter dari hal-hal yang sekiranya merusak hati dan diri kita. Dzuzant@gmail.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: