***** Dzuzant's *****

"Tanpa Berkarya, Sungguh Kita Telah 'Mati'"

SURTINI

Posted by dzuzant pada November 16, 2011

 

“Tidak seharusnya kau lakukan itu, Surtini!” Kata seorang ibu kepada anak semata wayangnya.

“Kenapa tidak, bu.” Kilah Surtini. “Aku sudah dewasa, Surtini tau mana yang terbaik untuk Surtini,” Surtini memalingkan wajahnya dari sang ibu. “Lebih baik ibu ga usah ikut campur urusanku…”.

Sang ibu tak dapat berkata-kata lagi, semua alasan dibantah dengan mudah oleh Surtini. Anak sekarang benar-benar berbeda dengan anak-anak zaman dulu. Anak-anak sekarang lebih pintar, cerdas hingga akal sehatnya tak sempat membedakan mana yang baik dan mana yang buruk. Tepatnya, anak sekarang cerdas memanipulasi kebenaran. Sang ibu teringat masa kecilnya, dimana anak-anak patuh dan tak banyak menuntut kepada orang tuanya.

Satu persatu pecahan kristal putih jatuh dari kedua kelopak matanya. Dia tak ingin belahan jiwanya salah memaknai hidup. Dia takut hidup anaknya berantakan karena salah dalam memilih teman. Sekali salah melangkah maka akan sulit memperbaikinya.

“Anakku, ibu ngerti kamu sudah tau mana yang paling baik bagimu,” perlahan-lahan ibunya memberi nasihat dan pemahaman kepada anaknya. “Tapi, kamu mesti ngerti bahwa tidak semua yang terlihat bagus itu baik untukmu.”

“Maksud ibu?”

Sang ibu mengambil dua gelas, satu berisi susu dan satunya berisi air tawar. “Pilih salah satunya, anakku.”

Tanpa pikir panjang, Surtini langsung mengambil gelas yang berisi susu.

“Kenapa kamu memilih susu?”

“Susu itu lebih enak dari air tawar selain juga baik bagi kesehatan.” Jawab Surtini singkat, jelas. Sang ibu tersenyum melihat jawaban anaknya yang tegas dan percaya diri.

“Apakah kamu akan tetap memilih susu, seandainya ibu campur susu itu dengan racun?”

Surtini terdiam. Tak mengerti apa sebenarnya yang dimaksud ibunya. Mana mungkin ia diracuni oleh ibunya sendiri. Dia tak sekejam yang dibayangkan. Dia selalu menebar salam disertai senyum kala berjumpa dengan orang lain. Bagiku, ibu adalah wanita ideal yang taat agama. Jadi, tidak mungkin dia melakukan hal-hal yang dilarang agama.

Ibunya menangkap kegelisahan anaknya. Tanpa dijawab pun ia mengerti jawaban anaknya.

“Anakku, susu itu baik bagi kesehatan tapi akan menjadi malapetaka bagi kita tatkala sudah bercampur dengan racun. Demikian juga dengan keinginanmu menjadi wanita paling cantik, perfect di depan orang lain adalah keinginan manusiawi. Sama seperti wanita-wanita lain juga menginginkan hal yang sama sepertimu. Tapi ingat, membenarkan segala cara untuk memenuhi hasratmu itu tidaklah dibenarkan dalam agama.” Dengan sangat telaten sang ibu memberi penjelasan kepada buah hatinya. Kata-kata bijak, santun adalah kata-kata yang akrab di telinga Surtini, hampir tiap hari dia dinasihati ibunya. Sebelum berangkat sekolah, sebelum tidur, dan menjelang maghrib.

Keinginan Surtini itu bermula ketika ia duduk di bangku SMP. Tiap kali memasuki halangan sekolah ia selalu diejek dan diolok-olok oleh teman-temannya. Badan kurus lah, tampang pas-pasan, mata sipit, hidung pesek, bokong lurus dan cacian-cacian lain yang tak mengenakkan di telinga seringkali meluncur dari mulut teman-temannya. Parahnya, mereka mengatakannya tanpa  merasa bersalah. Mereka tidak puas mengejek Surtini sebelum melihat Surtini menangis. Di mata mereka Surtini bagaikan bola yang bisa ditendang kesana-kemari. Bagai kapas yang dapat diterpa angin sepuasnya. Karena sikap mereka pula mental Surtini down, apalagi dia sering dikucilkan kaum lelaki. Kenapa wanita jelek selalu tersingkirkan? Sedangkan, tidak ada yang namanya lelaki jelek tersingkirkan? Bukankah mereka sama-sama ciptaan Tuhan? Dunia benar-benar sudah edan. Di sekolah ia hidup sendiri. Rasanya tidak mungkin kalau berkumpul lagi dengan teman-teman yang lain. Terlalu hina dia di hadapan mereka. Terlalu naif nasibnya. Dia merasa sepi dalam keramaian.

Sampai suatu hari dia memutuskan untuk operasi plastik seluruh tubuhnya, tetapi keinginan itu tidak tercapai karena biaya operasi tidaklah sedikit. Melihat kondisi keluarganya tidaklah mungkin melunasi biaya operasi. Situasi seperti inilah yang membuatnya ingin mengakhiri hidupnya. Lagi-lagi rencananya gagal karena segera diketahui ibunya.

Surtini duduk membisu dalam kamarnya. Pintu dikunci dari dalam. Tak ingin diganggu siapa pun. Termasuk ibunya. Perasaannya hancur. Hatinya sakit bagai diiris-iris sebilah pisau. Siapakah yang salah, Tuhankah yang telah menciptakanku? Atau, ibu yang telah melahirkan aku ke dunia? Mereka kejam. Mereka sengaja lahirkan aku supaya aku jadi bahan ejekan manusia-manusia srigala. Lalu, mereka biarkan aku dicabik-cabik hingga tak tersisa. Sedangkan mereka…mereka duduk santai menyaksikan adegan seru…bahkan lucu bagi mereka.

Pagi telah tiba. Penderitaan tadi malam membuatnya lelah dan tertidur sangat pulas. Sekarang sudah lumayan, otaknya sudah mencair kembali bersama semerbak bunga sakura yang berjejer rapi di sepanjang bibir sungai. Sebentar lagi berangkat ke sekolah. Bersiap-siap jadi mainan anak sekolah. Dia pasrah. Sepertinya, tak ada lagi yang bisa diperbuatnya. Kalaupun ada itu tidak akan memulihkan luka-luka sebelumnya.

Kakinya terus mengayuh pedal sepeda. Pandangannya kosong. Entah apa yang sedang dia pikirkan. Tiba-tiba…..brakkkkk.

Seorang kakek tergelepar. Dari kakinya keluar cairan merah. Dia terluka. Surtini terkejut. Karena tidak konsentrasi naik sepeda hampir saja ia membunuh seorang kakek. Ia tak bisa memaafkan dirinya bila hal itu terjadi. Dia segera menghampiri kakek. Menolongnya.

“Kakek, tidak kenapa-napa?”

“Tidak apa-apa, Cuma luka sedikit.”

“Aku anterin ke rumah sakit, kek?”

“Tidak usah. Besok luka ini akan sembuh.”

Dari wajahnya tidak ada tanda-tanda kakek itu sedang marah. Bahkan kakek itu sangat ramah. Selalu senyum walaupun sedang ditimpa musibah. Surtini tersentuh melihatnya. Terbayang masalah-masalah yang dihadapinya. Seandainya aku seperti kakek! Batinnya.

“Kenapa termenung, nak?”

“Nggak, kek! Aku nggak apa-apa.”

“Ceritakan saja, kalau ada yang mesti diceritakan. Barangkali kakek bisa bantu.”

Surtini lama terdiam. Pandangannya menerawang ke angkasa. Entah ada apa disana. Dia pun tak mengerti. Lalu, dia menunduk meyakinkan diri bahwa kakek adalah orang yang tepat untuk curhat. Tak lama kemudian untaian kalimat pilu mengalir dari mulutnya, sesekali berhenti karena tak kuasa menahan rasa perih tatkala teringat penderitaan yang diterimanya. Sang kakek mendengarkan dengan seksama, tidak bicara sebelum Surtini menyelesaikan ceritanya. Kakek merasa kasihan dengan nasib yang menimpa gadis cantik ini. Sungguh malang nasibmu, nak!

“Nak….!” kakek memulai pembicaraannya “Hidup itu tak selalu sesuai dengan harapan kita, …”

“Berarti…Tuhan tak sayang pada kita, kek?” Potong Surtini.

“Justru, disitulah bentuk kasih sayang Tuhan kepada hamba-Nya. Coba pikir, seandainya hidup itu seperti yang kita inginkan, apapun yang kita inginkan selalu terpenuhi tanpa harus kita berusaha. Maka kita akan menjadi pemalas, malas berpikir dan malas berusaha. Buat apa kita diberi tenaga kalau tidak dipakai untuk berusaha. Buat apa kita diberi pikiran kalau tidak digunakan untuk berpikir. Kalau seperti itu, apa bedanya kita dengan hewan lain?”

“Benar juga, kata kakek. Sekarang aku harus bagaimana, kek?”

“Syukuri apa yang kamu punya. Merasa cukup dengan semua yang kamu dapatkan, maka hidupmu akan tentram.”

Setelah sang kakek selesai memberi petuah, Surtini pun pamit pergi ke sekolah. Surtini kembali mengayuh sepedanya. Rambutnya yang lebat dan hitam bergurai kemana-mana diterpa angin pagi. Pagi itu dia merasa sangat senang. Beban yang dideritanya seketika hilang. Perasaannya plong. Dia siap menghadapi dunia. Siap menghadapi teman-teman yang suka menghinanya. “Ternyata Tuhan tak salah menciptakan aku, tapi akulah yang salah menuduh Tuhan.” dzuzant@gmail.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: