***** Dzuzant's *****

"Tanpa Berkarya, Sungguh Kita Telah 'Mati'"

Archive for the ‘Kajian Umum’ Category

SENYUM DAN SIKAP INDIVIDUALISTIK

Posted by dzuzant pada Desember 11, 2011

Suatu hari saya membaca buku yang berjudul Berpikir dan Bertindak karangan Doug Hooper. Di dalamnya terdapat salah satu sub bab yang membahas perubahan hidup karena sebuah senyuman. Dalam buku tersebut, Hooper menceritakan kunjungannya ke LP Folsom, California, di sana dia bertemu dengan seorang napi bernama Alex (nama samaran) berusia kira-kira 50 tahun. Dia memiliki kepribadian yang sangat negatif dan tidak memiliki banyak teman. Singkat cerita, ketika Hooper berceramah di depan orang banyak (termasuk Alex), semua orang di ruangan itu tertawa mendengar ceramah Hooper yang lucu. Itulah pertama kali dia (Hooper) melihat Alex tertawa. Tampak kebahagiaan bersinar dari wajahnya.

Keesokan harinya ketika Hooper berceramah, Alex datang bersama temannya seraya tersenyum. Kini ia tampak berbeda dengan hari-hari sebelumnya. Bayang-bayang kelam di wajahnya mulai memudar. Itulah kisah singkat yang dialami Doug Hooper tentang arti sebuah senyuman bagi kehidupan. Betapa penting dan perlu senyuman itu bagi seseorang. Tak dapat dibayangkan bila semua orang dibelahan dunia tidak pernah tersenyum sepanjang hidupnya, seperti Alex kah atau malah lebih buruk dari itu?

Senyum. Sebuah kata yang ringan diucapkan, mudah diingat, dan familiar di telinga. Yang pasti, senyum itu murah nyaris tanpa modal. Kita tak perlu membayar hanya untuk tersenyum kepada seseorang (meskipun ada orang tersenyum karena dibayar). Biasanya orang refleks tersenyum ketika melihat sesuatu yang menarik dan menyenangkan bagi dirinya. Dan kita pun sangat ikhlas memberikan senyuman kepada apa yang kita sukai.

Berbeda jika kita sangat terpaksa melakukan senyuman atau bahkan tidak tersenyum sama sekali. Tidak menarik untuk dilihat malah menambah kuantitas penyakit bagi orang lain. Sikap individualis akan semakin meningkat. Barangkali inilah salah satu faktor meningkatnya sikap individualistik dan punahnya budaya gotong royong di perkotaan. Dengan tetangganya nyaris mereka tidak mengenalnya. Apalagi sekedar berbincang-bincang dengan mereka. Mereka hampir tidak memiliki kesempatan untuk tersenyum kepada tetangganya. Kalau tersenyum pada tetangganya akan menimbulkan fitnah. Karena lelaki itu tersenyum kepada istri tetangganya.

Apabila hal ini terus menerus terjadi, lambat laun kehidupan di perkotaan akan menjadi kota neraka yang mengerikan. Dimana semua penduduknya tampak seperti saling bermusuhan padahal tidak demikian.

Sebagai akhir dari tulisan ini, penulis kemukakan pengalaman yang tak jauh berbeda dengan pengalaman Alex. Beberapa minggu terakhir saya mengalami strees yang sangat kuat. Teman-teman mulai menjauh dari saya –walaupun mereka menjauh bukan karena takut atau benci kepada saya tapi (mungkin) karena merasa aneh dengan sikap saya. Karena setiap kali bertemu mereka saya mudah marah dan sensitif. Padahal sebelumnya tidak seperti itu.

Setelah dipikir-pikir “capek”  juga hidup seperti itu. Terasa hampa. Setelah saya sadari ternyata dalam beberapa minggu itu saya tidak pernah tersenyum kepada orang lain. Terlepas beberapa faktor yang mempengaruhi saya. Mulai sekarang saya akan berusaha untuk tersenyum kembali. Budayakan senyum bila ingin melihat manusia subur. Hindari sikap individualis dengan selalu tersenyum. Smile.

Iklan

Posted in Kajian Umum | Dengan kaitkata: , , | Leave a Comment »

PEMUDA: ASET MASA DEPAN

Posted by dzuzant pada Mei 31, 2010

Oleh Dedy Susanto

Keberlimpahan era komunikasi dan informasi telah menggiring umat manusia kepada “kehidupan baru”. Kehidupan serba mudah dan instant. Orang bisa mendapatkan apa saja yang diinginkannya dengan mudah. Melalui media Internet dan TV, kita dapat melihat perkembangan dunia tanpa harus keliling dunia. Dengan media-media ini pula para artis dapat menampilkan life style (gaya hidup) terbarunya dengan leluasa kepada publik, mulai dari model pakaian, rambut bahkan bentuk tubuh yang ideal, setidaknya menurut versi mereka.

Para penikmatnya pun tidak sedikit yang menggandrunginya, mulai dari lansia, remaja dan anak-anak di bawah umur. Mereka, terutama kaum remaja, berbondong-bondong meniru gaya hidup para artis. Mereka bertingkah seperti yang mereka lihat di TV. Mereka berbicara meniru bicara artis yang katanya ‘bahasa gaul’. Semua yang datang dari artis walaupun sedikit ‘aneh’ dianggap gaul.

Keberhasilan media-media tersebut dalam menarik perhatian memberikan jalan baru bagi kelompok atau gerakan-gerakan yang menginginkan kehancuran umat manusia. Seperti gerakan salibisme, free masonry, zending, komunis dan gerakan Yahudi. Mereka para penghancur peradaban manusia, pemecah belah persatuan. Mereka menaburkan racun-racun dan virus yang mematikan dalam media massa; surat kabar, TV, dan internet serta pentas-pentas hiburan. Hanya saja kebanyakan dari kita tidak menyadarinya. Melalui pentas hiburan mereka berusaha menghipnotis umat manusia, terutama umat Islam, supaya lalai memikirkan hal-hal yang berkaitan dengan ketuhanan. Mereka tidak akan pernah berhenti sampai melihat kita sudah tidak berdaya lagi. Seorang imperialis pernah mengatakan bahwa segelas minuman keras dan seorang artis bekerja sama untuk menghancurkan umat Muhammad adalah jauh lebih berhasil ketimbang seribu pucuk senjata.

Melalui teori-teorinya Sigmund Freud manampilkan teori-teori kebebasan bergaul dan berhubungan dengan perempuan mana saja. Menurutnya orang yang tidak memenuhi potensi seksualnya akan mengalami kegelisahan bahkan kematian. “Biarlah pemuda-pemudi bebas bagai burung di angkasa”. Tuturnya. Nampaknya kaum remaja telah terjerat dengan teori ini.

Remaja adalah aset masa depan yang mesti dijaga sebaik mungkin. Sebab kehancuran kaum remaja merupakan alamat kehancuran masa yang akan datang. Oleh karenanya untuk menguasai masa depan (the future), maka rangkullah pemudanya. Pemuda yang menguasai masa kini akan menjadi raja di hari esok. Pemuda yang mewarnai kehidupannya dengan sejuta harapan lebih mampu “bertahan hidup” di masa yang akan datang dari pada pemuda yang hampa dengan harapan. Masa depan itu ada di pundaknya. Dalam pandangan Dilara Larasati, generasi muda adalah bahan baku utama sebuah peradaban, di mana pun dan di zaman apapun. Baca entri selengkapnya »

Posted in Kajian Umum | Dengan kaitkata: , , | 1 Comment »

INDAHNYA DI TROTOAR

Posted by dzuzant pada Mei 28, 2010

Oleh Dedy Susanto

Sepanjang jalan raya ramai oleh suara bising transportasi yang berlalu-lalang dan suara canda-tawa pemuda-pemudi yang sedang asyik berkumpul bersama teman-temannya di trotoar (pinggir jalan raya). Entah apa yang sedang mereka perbincangkan. Urusan bangsakah ? Urusan duniakah ? urusan agamakah ? Atau mereka sibuk memikirkan nasib manusia sebagaimana ulama sibuk memikirkan umatnya.

Sore hari adalah waktu yang tepat bagi mereka untuk berkumpul. Karena matahari sudah tidak terasa panas lagi. Suasananya adem. Membuat mereka betah berlama-lama. Biasanya mereka suka ngumpul di pinggir jalan raya. Sekedar ngobrol dan cuci mata alias lihat wanita-wanita cantik yang berlalu lalang.

Entah apa yang membuat tempat ini begitu diminati mereka. Tidak ada secangkir kopi yang menemani apalagi buku-buku bacaan. Hanya ada gitar yang selalu mereka mainkan dengan diiringi lirik-lirik lagu popular. Seperti Ungu, Peterpen, ST12, The Virgin dan Mulan Jameela. Hidup mereka santai, senang seperti tiada beban walaupun dalam hatinya seribu beban menterornya. Mereka menemukan kebahagiaannya di trotoar bukan di rumahnya. Rumahnya bagaikan sel penjara. Setiap saat dimarahi dan dipukul.

Jangan salahkan mereka. Mereka sedang sibuk mencari jati dirinya. Mencari kebahagiaan sejati. Mereka sedang berproses menjadi pribadi-pribadi yang luar biasa. Mereka sekumpulan muda-mudi, generasi bangsa yang sedang belajar bermusyawarah dengan teman-temannya. Mereka jalin silaturrahim. Mereka peduli terhadap teman-temannya. Mereka kompak dalam memecahkan masalah. Mereka tidak membuat keonaran di jalan raya. Tidak merampas hak orang lain dan barang dagangan di pasar. Mereka hanya berkumpul mencari kesenangannya, kebahagiaan, dan suasana baru bersama teman-temannya. Mereka tidak tahu –atau tidak tahu menahu- tentang persoalan bangsa dan negara yang semakin membengkak. “Biarlah itu menjadi urusan presiden dan menteri-menterinya.” Katanya. Mereka tak perduli. Yang penting bagi mereka hidup senang. “Pemerintah aja gak peduli pada kita kenapa kita repot-repot peduli terhadap mereka. Hidup mereka ya hidup mereka. Hidup kita ya hidup kita. Kumaha urang wae atu.”.

Alangkah sedihnya negeri ini. Melihat bangsanya tak lagi perduli terhadapnya. Presiden meneriakkan kesejahteraan dan keamanan  tapi rakyat malah menderita kekacauan tumbuh subur di mana-mana. Para ulama dan cendekiawan berteriak menasehati umatnya, mengingatkan bahaya free sex, pergaulan bebas. Tapi justru kemaksiatan merajalela. Kekayaan alamnya yang melimpah. Tak mampu mensejahterakan rakyatnya. Siapakah yang salah ? [Bandung, 11.05.’10/ 07:03 AM]

Posted in Kajian Umum | Dengan kaitkata: , | Leave a Comment »

MENULIS SERIBU IDE

Posted by dzuzant pada Mei 5, 2010

Oleh Dedy Susanto
[2010]
Kalau di dunia ini tidak ada penulis, maka kehidupan generasi selanjutnya akan kacau balau. Peradaban umat manusia akan hancur. Nilai-nilai kehidupan yang diajarkan umat terdahulu tidak mampu bertahan dengan sempurna sampai sekarang manakala tidak diabadikan dalam tulisan. Suatu ilmu yang tidak diikat (ditulis) dengan tulisan akan musnah ditelan masa. Budaya lisan tidak menjamin utuhnya sebuah ajaran-ajaran atau pemikiran-pemikiran generasi terdahulu tanpa dibarengi dengan budaya tulis. Pemikir-pemikir besar terdahulu seperti Ghazali, Ibnu Rusyd, Aristoteles, Plato dan Mahatma Gandi, pemikiran-pemikirannya tetap hidup sampai sekarang. Karena diabadikan dalam bentuk tulisan. Sehingga bisa dibaca, diteliti, dan dianalisis oleh generasi sekarang. Dan melahirkan ilmu-ilmu baru.
Pada dasarnya setiap orang bisa melakukan apa saja yang dia inginkan termasuk menjadi penulis. Selama ini seringkali penulis pemula terjebak dengan teori-teori menulis  yang baik yang ditawarkan para penulis. Hasilnya, mereka kebingungan harus  memulai menulis dari mana. Karena kebingungan, semua ide yang muncul dipikirannya hilang seketika. Ide itu mudah datang dan mudah juga perginya. Solusinya segera tuangkan ke atas kertas (tulis). Baca entri selengkapnya »

Posted in Kajian Umum | Dengan kaitkata: , , | Leave a Comment »

Tidak Ada Paksaan Dalam Menulis

Posted by dzuzant pada Maret 27, 2010

Oleh Dedy Susanto
[22.03.’10]

Menjadi penulis bukanlah suatu keharusan. Tetapi kalau tidak ada penulis, alamat dunia akan “kiamat”. Entah apa yang akan terjadi bila penulis Al-Qur’an pada zaman Nabi saw. tidak ada. Entah bagaimana jadinya jika sahabat Usman tidak membukukan kitab suci Al-Qur’an (mushaf Usmani,  yang digunakan umat manusia di seluruh dunia sampai sekarang). Mau mengandalkan para penghafal Al-Qur’an?  Bagaimana kalau mereka mati terbunuh dalam peperangan? Akankah kitab Al-Qur’an  sampai kepada kita kalau para penghafal Al-Qur’an sudah  tiada? Kalaupun sampai, tidak akan se-orisinil atau sesempurna aslinya. Kekuatan pikiran manusia itu sangat terbatas. Dengan kata lain, menulis adalah penyambung sejarah. Berdasarkan semua fakta itu, dapat disimpulkan bahwa menulis itu sangat penting.
Sebagaimana judul tulisan ini, Tidak Ada Paksaan Dalam Menulis, sangat penting kita bahas. Paksaan, maksudnya, adalah memaksa orang lain yang tidak memiliki hasrat untuk menulis. Kecuali memaksa diri untuk bisa menulis (karena ingin menjadi penulis).
Menulis sebagaimana kita pahami sebagai suatu aktivitas yang sangat urgen. Tetapi, bukan sesuatu yang harus dipaksakan terhadap seseorang untuk menjadi penulis. Menjadi penulis itu harus dari dasar hatinya yang paling dalam. Semangat yang besar terhadap sesuatu akan memunculkan potensi dalam diri kita. Ibarat kata, potensi itu bagaikan ‘lebah yang bersembunyi di balik sarangnya’. Jika sarangnya disentuh oleh benda asing dari luar, maka lebah itu akan segera keluar. Setiap manusia dikaruniai potensi masing-masing. Termasuk menjadi penulis. Hanya saja, bagaimana ia lihai memancing potensi (menulis) itu agar keluar.
Masalahnya sekarang, bagaimana memancing potensi menulis itu?
Jawabannya sangat mudah. Pertama. Hasrat. Hasrat hampir serupa dengan niat. Hasrat untuk menggapai sesuatu atau hasrat untuk bisa melakukan sesuatu. Dengan bekal ini (hasrat) disertai dengan keyakinan, manusia akan sampai pada puncak yang ia inginkan.
Kedua. Praktek. Belajar menulis seperti halnya belajar naik sepeda. Sebanyak apa pun buku panduan yang ia baca, sesering apa pun ia mendengarkan nasihat tentang naik sepeda ia tidak akan bisa naik sepeda. Sebelum ia praktek langsung naik sepeda. Demikian juga menulis, seseorang tidak akan bisa menulis kalau tidak terus menerus berlatih menulis. Menulis apa pun yang ia sukai. Bagi pemula, jangan pernah berpikir untuk menulis yang baik. Dan jangan pernah pedulikan rumus-rumus tentang menulis. Orang banyak terjebak di sini. Karena memikirkan bagaimana menulis yang baik. Akhirnya ide di kepalanya hilang. Kalau ide sudah hilang sulit untuk kembali lagi. Akhirnya, kita juga yang rugi.
Ketiga. Tidak putus asa. Pandanglah kegagalan sebagai batu loncatan menuju suatu keberhasilan. Pada mulanya menulis itu sulit tetapi pada step selanjutnya akan mengalir bagai air sungai. Dalam hal ini, kita patut mencontoh sang penemu lampu pijar, Tomas Alfa Edison, yang mengalami kegagalan ratusan kali.

Posted in Kajian Umum | Dengan kaitkata: , | 1 Comment »