***** Dzuzant's *****

"Tanpa Berkarya, Sungguh Kita Telah 'Mati'"

Posts Tagged ‘dakwah’

STRATEGI DAKWAH ANTARBUDAYA

Posted by dzuzant pada Mei 16, 2010

By Dedy Susanto

Istilah strategi kerap kali kita dengar dalam peperangan (war) maupun hal-hal yang berkaitan dengan kemiliteran. Straregi di sini berarti ‘ilmu tentang perencanaan dan pengerahan operasi militer secara besar-besaran’ atau kemampuan yang terampil dalam menangani dan merencanakan sesuatu. Baca entri selengkapnya »

Posted in hikmah | Dengan kaitkata: , , | Leave a Comment »

STRATEGI DAKWAH NABI

Posted by dzuzant pada Mei 15, 2010

oleh Dedy Susanto

1. Masyarakat Arab Paganisme.

Sebelum Islam lahir ditengah-tengah masyarakat Arab Jahiliyah atau masa pra-Islam, mereka adalah penyembah berhala yang taat. Kemudian mereka dikenal sebagai masyarakat Arab Paganisme. Mereka menyebut berhala-berhala yang disembahnya seperti yang disebut dalam kata Yunani sebagai hot heos yang berarti “Tuhan”.

Sebenarnya nama Allah itu sendiri bukanlah nama yang asing bagi orang-orang Jahiliyah. Sehingga, pada perkembangan selanjutnya ketika Nabi Muhammad diutus oleh Allah untuk menyampaikan ajaran-ajaran Islam, orang-orang pagan banyak yang menghargai paling tidak sebuah gagasan kabur, dan mungkin pula  kepercayaan kabur terhadap Allah sebagai Tuhan tertinggi di atas tingkatan berhala-berhala yang mereka sembah.

Kalau misalnya ditanyakan kepada mereka perihal, siapa yang menciptakan langit dan bumi serta yang menurunkan hujan, mereka pasti mengatakan bahwa Allah-lah yang melakukan semuanya. Hal ini bisa kita lacak di dalam kitab suci Al-Qur’an surat al-Ankabut:

“Jika kamu tanyakan kepada mereka (yaitu orang-orang Arab pagan) ‘siapa yang menciptakan langit dan bumi, dan menundukkan matahari dan bulan?’ mereka tentu saja akan menjawab, ‘Allah’.” (QS. Al-Ankabut: 61)

Dan ayat berikutnya menyatakan

“Jika kamu tanyakan kepada mereka ’siapa yang menurunkan hujan dari langit dengan menghidupkan bumi dengannya setelah bumi itu mati?’ mereka tentu saja akan menjawab, ‘Allah’.” (QS. Al-Ankabut: 63)

Jelas bahwa Allah telah dikenal sejak masa pra-Islam. Hanya saja orang-orang pagan gagal menarik kesimpulan  yang masuk akal dari pengakuan terhadap Allah sebagai Pencipta langit dan bumi serta seisinya. Demikian Toshihiko menuturkan.

2. Nabi Muhammad di Panggung Sejarah

Waraqah bin Naufal bin Asad bin ‘Abd al-‘Uzza,[1] sepupu Khadijah, istri Nabi Muhammad saw, merupakan orang kedua, setelah Khadijah, yang mengakui kenabian Muhammad. Hal ini seperti yang digambarkan dalam sebuah hadis Bukhari pada bab tentang “Bagaimana Wahyu datang kepada Nabi”. Kemudian hadis tersebut dikutip oleh Toshihiko Izutsu[2] dalam bukunya, Relasi Tuhan dan Manusia. Dia menulis kurang lebih seperti ini:

Ketika wahyu pertama “Bacalah dengan nama Tuhanmu yang telah menciptakan” turun kepada Nabi saw. dalam bentuk yang sangat aneh dan mengagumkan, Nabi yang belum pernah mengalami hal seperti itu sebelumnya wajar saja mengalami goncangan. Dia kehilangan kepercayaan diri; ia gelisah, gugup dan menderita. Singkatnya, dia sendiri tidak tahu bagaimana harus memahami pengalaman yang aneh ini. Baca entri selengkapnya »

Posted in kajian keislaman | Dengan kaitkata: , , | Leave a Comment »

Dakwah Orang “Bodoh”

Posted by dzuzant pada Mei 5, 2010

oleh Dedy Susanto

Ada sebuah pertanyaan yang menggegerkan penduduk langit dan bumi. Pertanyaan tersebut begini:
“Mana yang lebih utama shalat orang bodoh tapi khusyuk atau shalat orang alim tapi tidak khusuk?”
“Orang alim yang shalatnya tidak khusyuk itu bukan orang alim.”
“Tapi ia menguasai berbagai disiplin ilmu agama, mulai Al-Qur’an, fiqih, tafsir, akidah dan lain-lain. Bahkan ia menjadi ustadz dan mengajar di berbagai pesantren dan perguruan tinggi Islam.”
“Tetap saja ia bukan orang alim seperti yang dikehendaki Allah. Ia tak lebih dari pengumpul ilmu, yang dengan ilmunya ia tak bisa menolong “hatinya” untuk sujud di hadapan Allah dan konsisten mengingat-Nya.”
“Kalau begitu, tidak ada gunanya ia belajar.”
“Ya tetap ada walaupun saeutik.”
Saeutik itu apa, tadz.”
Saeutik tu bahasa Sunda tau. Artinya sedikit.”
“Ooo. Tapi bagaimana dengan seorang bodoh yang khusyuk?”
“Ia sebenarnya bukan orang bodoh, meskipun secara folmal mungkin agak janggal kalau disebut orang alim.”
“Tapi faktanya ia kan tidak bisa membaca kitab-kitab kuning (gundul) dan menjawab persoalan-persoalan agama.”
“Tidak apa, yang penting hatinya sudah menjadi singgasana bagi nur yang tak terperikan terangnya. Kalau orang ini mau mengaji ilmu dzahir seminggu saja akan sama perolehan ilmunya dengan aku belajar delapan puluh tahun.”
“Tapi orang ini kan tidak bisa bertabligh?”
“Sebenarnya bisa, Cuma tidak di mimbar. Tabligh dia di tengah pergaulan dengan contoh-contoh yang konkrit.”
“Benar juga ya, ustadz memang hebat?”
“Bukan aku yang hebat, tapi tu si bodoh dari gua hantu, ha…ha…ha.”

(Diambil dari karya, D. Zawawi Imron)

Posted in hikmah | Dengan kaitkata: , , | 1 Comment »